Berikut ini saya kutipkan suatu tulisan berjudul “Selamat Hari Raja Idoel Fitri”, yang bersumber dari “MIMBAR MERDEKA” Warta Harian Oemoem Oentoek Menyelenggarakan Pembangoenan Negara Indonesia Merdeka, Tahoen Ke – 1, No. 1, Selasa 27 Agoestoes 1945.
SELAMAT HARI RAJA IDOEL FITRI.
Dari pada hari jang diresmikan oleh Agama Islam mendjadi hari besar, adalah hari 1 Sjawal. Sebagai oemoem ma'loem - bahwa tiap-tiap bangsa jang hidoep di Doenia ini sama mempoenjai hari jang haroes dirajakan dan dimoeliakan berhoeboeng karena toentoenan Agama atau kehendak masjarakat, sebab pertoekaran tahoen, atau kelahiran seorang ternama atau lantaran soeate peristiwa penting dalam negri.
Adapoen hari Raja Idoel Fitri 1 Sjawal itoe, diperintahkan oleh Agama membesarkanja, karena mengingati jang kita telah loeloes mendjalani perintah Toehan ialah berpoeasa seboelan lamanja jang didalamnja kita melakoekan pertempoeran hebat melawan hawa nafsoe.
Memang besar soenggoeh peperangan jang kita telah laloei itoe boekan oentoek merampas hak milik orang atau mena'loe kan soeatoe negara dengan mempergoenakan bom, granat atau lain-lainnja tapi semata-mata perdjoangan batin dengan bersendjatakan iman didada, menghadapi balatentara iblis dan sjeitan jang ingin menggempoer kesoetjian rochani, keloehoeran boedi, dan kemanoesian sedjati, maka seharoesnjalah kita beriang gembira karena telah memperoleh kemenangan jang gilang gemilang.
Hendaknja dalam kita menjamboet lebaran itoe, haroes ditimbang dan di oekoer agar djangan terlampau berlebih-lebihan hingga termasoek deradjat Israff dan Tabzier, tapi tjoekoep dengan sederhana, asal sadja dengan kehaloesan perasaan, ketinggian boedi, dan ketentreman djiwa.
Adapoen asal moelanja maka 1 Sjawal dan 10 Zoelhidjdjah haroes dihormati, ialah di zaman djahiliah sebeloem mendjelma agama Islam, adalah orang-orang Arab berlainan I'tigad dan kepertjajaan. Ada jang memeloek agama Nasrani, ada poela jang beragama Madjoesi, malah ta' poela koerang jang ta' beragama sama sekali. Maka dengan sendirinja hari raya masing-masingpoen berlainan satoe sama lain. Dan ketika Nabi Moehammad S.waw. tiba di Madinah masih terdapat di sana beberapa soekoe bangsa jang merajahkan hari Niroez dan Mahradjan sebagai warisan jang dipoesakai dari bangsa Persi, dan diperlakoekan oleh penganoet Madjoesi. Maka Rasoelloellah mentjegah perboeatan sedimikan itoe, dan diterangkannja bahwa hari raja Idulfitrie dan Idul Adha adalah lebih Oetama dari kedoea Ari raja tsb. Semendjak itoelah lenjap dari kaoem moeslimin pesta kebesaran hari Niriz dan Mahradjan tadi.
Allah telah memilih hari 1 Sjawal itoe, mendjadi soeatoe hari jang sangat berati, karena pada hari itoe djelas soedah bahwa perintah Toehan berpoeasa seboelan, sebagai roekoen Islam jang ke ampat dalam itoe tahoen, telah tammat di amalkan oleh segenap pemoeloek agama Islam jang bakti. Dan sepoeloeh Zoelhiddjah (lebaran Haddji) awwal moelanja diperintah oleh agama merajahkannja oentoek orang-orang jang telah melakoekan Hadjdji dan Woekoef di padang Arafah. Tapi bagi kita jang tidak pergi berhadji sekalipoen, haroes memoeliakannja djoega. Sebagai tanda peringatan atas keselesainja roekoen Islam ke V, jang tengah dikerdjakan oleh seloeroeh oemmat Islam jang sedang berkoempoel di Makkah dan Madinah setiap tahoen.
Djadi kini telah njata kegembiraan oemmat Islam dalam ke doea hari l'ed itoe, disebabkan telah rampoeng mereka mendjalani roekoen agama sebagai tanda ta'at kepada Ilahi.
Malam raya 1. Sjawwal itoe, hendaklah kita menjamboetnja dengan memperbanjakkan Takbier, Tahmied, dan Tagdies kepada Allah Ta'ala oentoek memperlihatkan sjoekoer dan terima kasih kita atas Ni'mat-Nja jang terhingga itoe. Dan pada pagi harinja haroes kita mem-bersihkan badan dan berfitrah goena me-njoekoepi keboetoehan hidoep sebahagian bangsa kita jang fakir dan miskin dengan perasaan belas kesihan kepada mereka. Setelah terbit matahari baiklah kita ber-kemas dan langsoeng menoedjoe ke lapa-ngan atau masdjid sambil bertakbir teroes, hingga Imam tiba. Disana nampak berdjedjer segala tingkatan dan lapisan bangsa jang sama berlindoeng dibawah pandji Islam tegak sama tinggi 'doedoek sama rendah ta' ada perbeda'an koelit dan warna ta' ada perselisihan pangkat dan kekajaan sama ber Saff dan berdiri, sama Roekoe' dan Soedjoed, kepada Rabbul Izzatie, Mereka sama merasa bahwa mereka bersaudara satoe sama lain dan mereka mengakoei bahwa mereka adalah Ramba dari Toehan jang Maha Koeasa. Demikanlah didikan, demokratie dalam Islam. Pidato jang dibatjakan oleh Chatib dikala itoe tepat dan sesocai dengan keadaan masa dan tempat. Setelah siap Choetbah tadi, kelihatanlah para Moeslimin maaf mema'afi dhahir dan batin dan sanggoep menghilangkan rasa dengki dan hasad agar tetap kokoh hendaknja tali persaudaraan sesama Islam.
Hal ini amat penting bagai pergaulan oemoem teroetama dalam masjarakat bangsa kita, antara para pemimpin maoe-poen Alim-Oelama jang pernah chilaf faham atau salah terka. Djanganlah perse-lisihan diperpandjangkan atau conflic di lebih-lebihkan. Soenggoeh boeroek soeatoe Oemmat jang telah terdidik dengan persatoean tapi masih sadja soeka mem-perdalamkan pertengkaran dan keriboetan. Insja Allah Lebaran dalam tahoen 1365 ini, membawa kebahagiaan dan ke-beroentoengan serta ketegoehan dan ke-koeatan bagi persatoean kita hingga lekas hendaknja tertjapai tjita-tjita dan toedjoean kita bersama, A min ja Rab-bal-Alamin!!!
MINAL-AIDIN wel FAIZIEN.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar