Senin, 31 Maret 2025

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI

 Berikut ini saya kutipkan suatu tulisan berjudul “Selamat Hari Raja Idoel Fitri”, yang bersumber dari “MIMBAR MERDEKA” Warta Harian Oemoem Oentoek Menyelenggarakan Pembangoenan Negara Indonesia Merdeka, Tahoen Ke – 1, No. 1, Selasa 27 Agoestoes 1945.


SELAMAT HARI RAJA IDOEL FITRI.


Dari pada hari jang diresmikan oleh Agama Islam mendjadi hari besar, adalah hari 1 Sjawal. Sebagai oemoem ma'loem - bahwa tiap-tiap bangsa jang hidoep di Doenia ini sama mempoenjai hari jang haroes dirajakan dan dimoeliakan berhoeboeng karena toentoenan Agama atau kehendak masjarakat, sebab pertoekaran tahoen, atau kelahiran seorang ternama atau lantaran soeate peristiwa penting dalam negri.

Adapoen hari Raja Idoel Fitri 1 Sjawal itoe, diperintahkan oleh Agama membesarkanja, karena mengingati jang kita telah loeloes mendjalani perintah Toehan ialah berpoeasa seboelan lamanja jang didalamnja kita melakoekan pertempoeran hebat melawan hawa nafsoe.


Memang besar soenggoeh peperangan jang kita telah laloei itoe boekan oentoek merampas hak milik orang atau mena'loe kan soeatoe negara dengan mempergoenakan bom, granat atau lain-lainnja tapi semata-mata perdjoangan batin dengan bersendjatakan iman didada, menghadapi balatentara iblis dan sjeitan jang ingin menggempoer kesoetjian  rochani, keloehoeran boedi, dan kemanoesian sedjati, maka seharoesnjalah kita beriang gembira karena telah memperoleh kemenangan jang gilang gemilang. 

Hendaknja dalam kita menjamboet lebaran itoe, haroes ditimbang dan di oekoer agar djangan terlampau berlebih-lebihan hingga termasoek deradjat Israff dan Tabzier, tapi tjoekoep dengan sederhana, asal sadja dengan kehaloesan perasaan, ketinggian boedi, dan ketentreman djiwa.

Adapoen asal moelanja maka 1 Sjawal dan 10 Zoelhidjdjah haroes dihormati, ialah di zaman djahiliah sebeloem mendjelma agama Islam, adalah orang-orang Arab berlainan I'tigad dan kepertjajaan. Ada jang memeloek agama Nasrani, ada poela jang beragama Madjoesi, malah ta' poela koerang jang ta' beragama sama sekali. Maka dengan sendirinja hari raya masing-masingpoen berlainan satoe sama lain. Dan ketika Nabi Moehammad S.waw. tiba di Madinah masih terdapat di sana beberapa soekoe bangsa jang merajahkan hari Niroez dan Mahradjan sebagai warisan jang dipoesakai dari bangsa Persi, dan diperlakoekan oleh penganoet Madjoesi. Maka Rasoelloellah mentjegah perboeatan sedimikan itoe, dan diterangkannja bahwa hari raja Idulfitrie dan Idul Adha adalah lebih Oetama dari kedoea Ari raja tsb. Semendjak itoelah lenjap dari kaoem moeslimin pesta kebesaran hari Niriz dan Mahradjan tadi.

 Allah telah memilih hari 1 Sjawal itoe, mendjadi soeatoe hari jang sangat berati, karena pada hari itoe djelas soedah bahwa perintah Toehan berpoeasa seboelan, sebagai roekoen Islam jang ke ampat dalam itoe tahoen, telah tammat di amalkan oleh segenap pemoeloek agama Islam jang bakti. Dan sepoeloeh Zoelhiddjah (lebaran Haddji) awwal moelanja diperintah oleh agama merajahkannja oentoek orang-orang jang telah melakoekan Hadjdji dan Woekoef di padang Arafah. Tapi bagi kita jang tidak pergi berhadji sekalipoen, haroes memoeliakannja djoega. Sebagai tanda peringatan atas keselesainja roekoen Islam ke V,  jang tengah dikerdjakan oleh seloeroeh oemmat Islam jang sedang berkoempoel di Makkah dan Madinah setiap tahoen.

Djadi kini telah njata kegembiraan oemmat Islam dalam ke doea hari l'ed itoe, disebabkan telah rampoeng mereka mendjalani roekoen agama sebagai tanda ta'at kepada Ilahi.

Malam raya 1. Sjawwal itoe, hendaklah kita menjamboetnja dengan memperbanjakkan Takbier, Tahmied, dan Tagdies kepada Allah Ta'ala oentoek memperlihatkan sjoekoer dan terima kasih kita atas Ni'mat-Nja jang terhingga itoe. Dan pada pagi harinja haroes kita mem-bersihkan badan dan berfitrah goena me-njoekoepi keboetoehan hidoep sebahagian bangsa kita jang fakir dan miskin dengan perasaan belas kesihan kepada mereka. Setelah terbit matahari baiklah kita ber-kemas dan langsoeng menoedjoe ke lapa-ngan atau masdjid sambil bertakbir teroes, hingga Imam tiba. Disana nampak berdjedjer segala tingkatan dan lapisan bangsa jang sama berlindoeng dibawah pandji Islam tegak sama tinggi 'doedoek sama rendah ta' ada perbeda'an koelit dan warna ta' ada perselisihan pangkat dan kekajaan sama ber Saff dan berdiri, sama Roekoe' dan Soedjoed, kepada Rabbul Izzatie, Mereka sama merasa bahwa mereka bersaudara satoe sama lain dan mereka mengakoei bahwa mereka adalah Ramba dari Toehan jang Maha Koeasa. Demikanlah didikan, demokratie dalam Islam. Pidato jang dibatjakan oleh Chatib dikala itoe tepat dan sesocai dengan keadaan masa dan tempat. Setelah siap Choetbah tadi, kelihatanlah para Moeslimin maaf mema'afi dhahir dan batin dan sanggoep menghilangkan rasa dengki dan hasad agar tetap kokoh hendaknja tali persaudaraan sesama Islam.


Hal ini amat penting bagai pergaulan oemoem teroetama dalam masjarakat bangsa kita, antara para pemimpin maoe-poen Alim-Oelama jang pernah chilaf faham atau salah terka. Djanganlah perse-lisihan diperpandjangkan atau conflic di lebih-lebihkan. Soenggoeh boeroek soeatoe Oemmat jang telah terdidik dengan persatoean tapi masih sadja soeka mem-perdalamkan pertengkaran dan keriboetan. Insja Allah Lebaran dalam tahoen 1365 ini, membawa kebahagiaan dan ke-beroentoengan serta ketegoehan dan ke-koeatan bagi persatoean kita hingga lekas hendaknja tertjapai tjita-tjita dan toedjoean kita bersama, A min ja Rab-bal-Alamin!!!


MINAL-AIDIN wel FAIZIEN.


Minggu, 30 Maret 2025

TUNTUTAN AGAMA

Tulisan ini (Toentoetan Agama) dikutip Oleh: Izhar Ma’sum Rosadi, Dari Sumber : MIMBAR MERDEKA, Warta Harian Oemoem Oentoek Menyelenggarakan Pembangoenan Negara Indonesia Merdeka, Tahoen Ke -1, No. 1, Selasa 27 Agoestoes 1946.


Ass. Alaikoem.


Manoesia hidoep di Alam Doenia ini bagaikan seboeah bahtera ditengah laoe-tan jang penoeh dengan taufan dan ge-lombang.

Disana kita berlajar menoedjoe tepian tjita-tjita dan maksoed. Sekali kita meng-hadapi laoètan tenang, tapi sering kita dapati laoetan itoe berombak. Memanglah demikan roepanja soennat Ilahi, dan tak ada laoet jang tidak berombak.

Bila bahtera tadi dihempaskan aroes gelombang kekanan dan kekiri, malah kadang-kadang dipoekoel moendoer, dan kerap kali patah tiangnja, angin bertioep dengan dahsjatnja, ombak meriggoeloeng dengan hebatnja, dikala itoelah terdengar pekik penoempang bermohon vahmat Toe-han jang maha Koeasa, agar laoetan itoe tenang kembali. Dengan sedihnja ia ber-seroe": Ja Allah ja Tochankoe, lepaskan-lah hambaMoe ini dari mara bahaja, to-longlah kami ja Tochan, selamatkanlah  kami ja Rabbi."

Tetapi djika laoetan itoe tenang kern-bali, angin moelai beremboes sepoi-sepoi basah matahari telah memantjarkan tja-hajanja, loepalah lagi manoesia akan Toehannja, hilanglah adjaran Agamanja, ta' diabaikannja larangan Toehannja.

Poetjat jang nampak dimoekanja telah lenjap, sendi anggautanja ta' lagi gemetar dan menggigil. Djelas kini ia berseri, riang gembira ketawa dan menjanji, se-dangkan sebeloem itoe ia ta' berkenalan dengan Toehan Seroe Sekalian Alam.

Disamping itoe poela ada sebahagian manoesia jang hanja bermohon pacla Toehannja dalam batin sadja, ia ta' me-ngeloeh dan menjesal, ta' lari kian kema-ri, hatinja tetap tabah dan tenang, karena memang demikian sikap dan tindakann ja dalam menghadapi senang dan soesah sebab ia telah ma'loem bahwa itoe semoca adalah tjobaan Toehan. Malah dipegang-nja tegoch kemoedi bahteranja (akal fikiranja ) sambil bertawakkal kepada Ilahi. Demikanlah kira-kira kiasan hidoep manoesia di Maja Pada ini.

Bahtera jang kita toempangi kini Al-hamdoelillah telah tiba ditepi pelabochan. Perang Doenia ke 2 telah selesai. Sekarang kita sama hidoep dizaman ma'moer dan damai. Kita telah bebas keloear dari masa perboedakan, pemerasan, dan penghinaan. Kita telah sama dapat merasai ni'mat hidoep jang dikoerniai Toehan dari pada pelbagai matjam makanan jang lezat tjita rasanja, dan pakaian jang indah djenis matjamaja.

Soengoeh tjanggoeng dan roegi orang orang jang dari dahoeloe melalaikan pe rintah Allah dan mempertiadakan larangan Nja.

Hendaknja tetap manoesia mendekat kan dirinja pada Toehan diwaktoe se-nang agar dapat memberi kesan padanja dikala soesah.

Bila telah kita lengah dari adjaran Agama diwaktoe jang silam, maka moelai dari sekarang dan selandjoetnja kita haroes berdjandji kepada diri sendiri, serta teroes hendaknja, mengamal kan apa jang diwadjibkan Toehan dan mendjaoehi larang-larangan Nja. Dalam senang dan soesah tetap kita menegoehkan batin dan memperhoeboengkan diri dengan Toehan. Soenggoeh amat besar faedah dan goenanja, walau sekalipoen gelombang hidoep bagaikan goenoeng tetap kita tegak berdiri oempama batoe karang jang senantiasa ditampar ombak narmoen kedoedoekannja bertambah koeat djoea.

Sadarlah wahai pembatja jang terhor-mat, perbaikilah boedi pekerti, sempoernakanlah achlaq dan kesopanan, ketahoei lah bahwa kekajaan, kemoeljaan, dan kemasjhoeran adalah anoegrah Toehan be-laka, boekan hasil oesaha kita sendiri.

Oleh kerna itoe djanganlah kita bersi-fat sombong dan takabboer.

Ni'mat itoe ta'kan tetap selamanja ada pada kita. Dianganlah loepa bahwa penghidoepan manoesia itoe, banjak sikoe dan seginja, dibalik pendakian mesti ada penoeroenan

Djanganlah terlaloe dipengaroehi oleh oeroesan materieel. Djanganlah terlampau bersifat loba dan tama'.

Memadailah dahoeloe dengan jang sedikit, kelak berhasil jang lebih banjak lagi. Moelai dari sekarang hendaknja kita tegoeh-mempertegoehkan tali persaudaraan jang memang telah diperintahi Agama. Lima kali sehari kita bertemoe dengan tetangga didalam mesdjid jaitoe dikala kita menoenaikan kewadjiban terhadap Toehan pada sembahjang jang lima waktoe itoe. Tjoekoep kesempatan goena ma'af-mema'afi bila terdapat salah faham atau lainnja selama pergaoelan kita se-hari-hari. Tidak memadai dengan itoe sadja, lebih djaoeh diadakannja poela sembahjang Djoem'at seminggoe sekali, agar lebih loeas bersoea dengan pendoedoek sekampoeng dan disana poela sama berhampoeran kapan terdapat soeatoe kechilapan dalam masa seminggoe, disamping itoe poela disoennahkannja kita sembahjang led 2 X setahoen agar lebih merata lagi pertemoean kita satoe sama lain. Djelasnja Agama kita beroesaha selaloe kedjoeroesan persatoean Oemmat, banjak ajat dan hadis jang menerangkan peristiwa demikian. Ditjegahnja kita berpetjah belah, marah memarahi, dendam mendendam, hasoet dan dengki, sangat dibentjii Toehan. Apa póela fitnah memfitnahi, adapoen dosanja itoe lebih keras daripada orang jang memboenoeh.

Bila kita telah sama ma'loem sekalian  perintah dan larangan Toehan, tapi masih tetap sadja kita menoeroeti hawa nafsoe adjakan iblis dan sjaitan, kelak siksanja lebih besar dari azab penjembah berhala.

Djelaslah kiranja wahai pembatja se-kalian bahwa selain dari sembahjang Idoel Fitri dan Adha diadakan poela olch Toehan jang Maha Adil pertemoean tahoenan (congress) ditanah Soetji Mekatoel Moçkarramah goena menoenaikan rockoen Islam jang kelima; disanalah berdjoempa sekalian pemeloek Agama Islam dari barat sampai ketimoer ta' ada perbedaan koelit dan warna, ta' ada perselisihan pangkat dan deradjat, kaja dan miskin sama rata pakaiannja; demikian-lah pengabdian oemmat Islam terhadap Tochannja.

Boekan sadja dapat kita bentang mem-bentangi tentang keadaan Islam dinegeri kita sendiri terhadap sesama Moeslimin dari satoe poelau tapi dapat kita mende-ngar perdjoeangan Oemmat Islam dari lain negeri, dan benoea.


Sekian sadjalah sekedar andjoeran dan peringatan dari saja terhadap para pembatja teristimewa Moeslimin Indonesia, dalam menghadapi pembangoenan Indo-nesia Merdeka oemoemnja, dan Idoel Fitri choesoesnja.


Ass. alaikoem Moeslimin


LAUT; Tinjauan Reflekif Jelang Indonesia Merdeka 1945

 Menarik untuk mengulas tentang Laut, bahwa sebagai mana kita ketahui bahwan pembangunan pagar laut di Kabupaten Tangerang dan Bekasi, juga di wilayah lain, memicu kekhawatiran karena berpotensi merusak ekosistem pesisir dan menghalangi akses nelayan ke laut. Pelanggaran ini sudah barang tentu harus dikenakan sanksi tegas sesuai UU Nomor 1 Tahun 2014. Pemasangan pagar laut melanggar prinsip hak masyarakat untuk memanfaatkan sumber daya laut (Common Public Resources) dan dapat dikategorikan sebagai praktik "bluewashing" untuk membenarkan kerusakan lingkungan demi kepentingan komersial. Oleh sebab itu, untuk memastikan keberlanjutan pengelolaan sumber daya laut, diperlukan pendekatan "environmentalism from below" yang melibatkan komunitas lokal dalam pengambilan keputusan, penegakan hukum berbasis teknologi, dan kawasan konservasi perairan (Marine Protected Areas)

 

Selain itu, saya kira penting bagi kita refleksi merenungkan situasi tentang Laut kita di awal kemerdekaan Republik Indonesia, sebagai mana ditulis dalam Majalah “Indonesia Merdeka”, No.7, 12 Djoeli Tahoen 2605, hlm .16. penerbit: Djawa Hoko Kai Himpoenan Kebaktian Rakjat, sebagai berikut ini.


Laoet

DALAM Indonesia Merdeka no.3, soedah ditoelis soal samoedera. Dalam nomor 5, di sangkoet djoega. Dalam nomor ini, ditoelis lagi! Seperti soal ini soal jang penting sekali rasanja! Tidak terpisahkan betoel dari soal Indonesia Merdeka.


Meman! Soal laoet, boekan soal jang boleh dikesampingkan, Kita pikir sadja setjara gampang. Kalau Indonesia Merdeka kita miliki, tapi laoet dikoeasal negeri lain karena kita tidak dapat mengoea sai sendiri (dalam arti jang loeas), apakah akan djadinja?


Deroesan garam jang ketjil, tapi terang soedah mendjadi keperloean hidoep jang tak terpisahkan itoe, terpaksa bergantoeng kepada jang mengoeasaj samoedra, Sebab, garamb ialah dari lacet teroetama. Deroesan ikan jang mendoedoeki tempat jang penting djoega dalam peri kehidoepan kita, begitoe poela, Oeroesan perhoeboengan antara satoe dan lain poelau? Oeroesan perhoeboengan dan pengangkoetan dengan lain-lain negeri? Dan jang teroetama, oeroesan pertahanan?


Apakah akan artinja, ---kalau Indonesia. Merdeka, tapi Laoetan Indonesia dipenoehi dengan Armada Asing? Dan teroetama, kalau armada asing itoe armada moesoeh!!

Indonesia Merdeka jang begitoe, kita tentoe tidak maoe!

Oleh sebab itoelah, maka dalam menggalang Indonesia Merdeka, kita mesti menggalang djoega kekoeasaan laoet Indonesia dengan segala soalnja,

Oetjapan ini seperti oetjapan propaganda sadja terdengarnja. Seperti mengoelang boenji sembojan-sembojan dan pelakat-pelakat didjalan djalan.

Memang begitoe, tapi, mengapa sembojan-sembojan dan pelakat-pelskat itoe tidak kita renoengkan dengan dalam?

Sekali batja, moengkin jang segera terbajang ialah: kepentingann armada Nippon! Tapi kalau kita renoengkan, meskipoen hanja setjara gampang seperti diatas tadi, akan segera poeia kelihatan: kepentingan Indonesia djoega!

Adanja, kepentingan jang sama itoelah jang memberi djiwa, jang menghidoepkan sembojan: sehidoep-semati! Kepentingan jang sama poela jang menjebabkan sesoeatoe oesaha dapat sama-sama dikerdjakan.


Kalau tidak ada jang sama pentingannja dengan kitapoen ---Soal laoet Indonesia, tetap mendjadi soal kita sendiri selama lamanja.


Adakah kesanggoepan bangsa kita oentoek itoe!


Naloeri, ada! Meskipoen beloem terang betoel, soedah sering ingatkan bahwa sedjak dahoeloe moela, kitapoen mempoenja darah pelaoet, Pernah Cri Dharmawangca Teguh Anantawikramottunggadewa (990 1006 M.) mempoenjai armada jang koeat, koeasa mengoessel samoäders. Dan kata “Asia Raja" pada tanggal 27 Djoeni 2604:


,,Apakah artinja ketjakapan dan keberanian bangsa Phoenisia jang tidak pernah meninggalkan pantal dari matanja dalam melajari Isoetan dari Siria pergi ketanah Inggeris Selatan oentoek mengambil timah, djika dibandingkan dengan nenek-mojang bangsa Indonesia jang hanja berpedomankan perbintangan ditjakrawala, mengaroeng samoedera besar Laoetan Hindia pergi ke Madagaskar di sebelah Barat, pergi ke New Sealand dan kepoelau-poelau lain Laoetan Tedoeh, Soengguh tepat lah djika seorang ahli tarih mengatakan, bahwa bangsa Indonesia didalam masa jang lampau dalam ketjakapan dan keberanian  menjeberangi samoedera hanja dapat dibandingi oleh bangsa Norman; sermoea jang lain dalam masa jang silam (toe adalah penjoesoer pantai belaka.

Lantas kita kenang kedjadian pada kapai Toedjosh Provinsi (1933 M.). Kedjadian jang me ngandoeng benih (arti): Anak anak kapal Indonesia, tidak maoe dikomando Belanda oentoek mengoeatkan pendjadjahannja atas bangsa Indonesia! Benih kesanggoepan tanggong djewah atas segara sendiri!

Benih kesanggoepаn nаmраk djoega pada adanja Roepelin. Roekoen Pelajaran Indonesia dan pendirian maskapai kapal Hadji.

Dan jang terachir ini, teroetama diboektikan oleh 51 orang pemoeda anak lacet Indonesia, berlajar ke-Nippon dengan 3 boeah kapal kajoe (April 2604).


Sekarang ini datang saatnja, naloeri dan kesanggoepan itoe berkembang. Kita ketengahkan tiga djalan, disamping oesaha-oesaha jang soedah ada:


1. mendjadikan hari 30 Djanoeari, hari besar peringatan laoet Indonesia jang dirajakan. Hari itoe taboen 2603 ialah hari toeroennja “Osamu Maru" kepermoekaan samoedera. Оsamu Maru ialah kapal kajoe jang pertama diboeat dipoelau Djawa

b. memperloeas tersiarnja pengetahoean tentang pentingnja laoet bagi kehidoepan sesoeatoe bangsa dan negeri.


c. mengadakan tempat pemilihan bibit bibit oentoek sekolah pelajaran, soepaja kalau soedah masoek sekolah itoe, moerid-moerid betoel betoel mendjadi tjalon pelaoet" jang oetama.


d. dan lain-lain jang bersifat menoemboehkan bibit kesanggoepan.


2. Mendirikan badan sematjam Roekoen Pelajaran Indonesia atau sematjam Djawa Unko Kaishi atau apapoen djoega, jang bersifat melatih dan mengoeroesi pelajaran dengan segala soalnja.

3. Mendirikan badan ataupoen apa, jang sematjam Peta, tapi boeat laoet, bersifat persiapan armada.


Moedah moedahanlah!






Senin, 24 Maret 2025

Puasa Ramadhan

 


Malam ini malam ke 24 Ramadhan 1446 H / 24 Maret 2025, izinkanlah saya mengutip apa yang ditulis oleh K.H.M. Hasyim As’ary (Beliau merupakan pendiri Nahdatul Ulama (NU) dn juga merupakan Kakeknya Presiden Republik Indonesia ke- 4, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur ) tentang puasa di bulan Ramadhan. Tulisan ini dikutip, tanpa merubah ejaan terkecuali tulisan Bahasa Arab, dari Madjallah SOEARA MOESLIMIN INDONESIA No. 17 Tahoen Ke-II, 1 September 1943. Berikut kutipanya:  


POEASA RAMADHAN DAN KELONGGARAN BERBOEKA.


Oleh: K. H. M. Hasjim Asj’ari.


HOEKOEM POEASA

TOEHAN Allah telah berfirman dalam soerat Al-Baqarah, jang artinja:

“Telah diwadjibkan pada kamoe sekalian berpoeasa, sebagai joega poeasa telah diwadjibkan pada orang-orang jang sebeloem kamoe sekalian (Keristen, Jahoedi dan lain -lainnja agar kamoe semoea takoet pada Allah”


Dan firmanNja poela, jang artinja:

“Barangsiapa diantara kamoe menampak boelan (Ramadlan), maka berpoeasalah”

Shahabat Ibnoe Oemar meriwajatkan hadist (sabda) Djoendjoengan kita, Nabi Moehammad s.a.w :

“Dinnul Islam ‘ala khomsin.Syahadati Anlaa ‘ilaha Illalloh wa anna muhammada rrosululloh, wa iqoomi shalat, wa iyyatizzakat, wa hajjal biiti, wa shoumi romadhon. 

Artinja:

,,Agama Islam didasarkan atas 5 dasar. Pertama, bersaksi bahwasanja tidak ada Toehan jang patoet disembah, ketjoeali Allah, dan bahwasanja Nabi Mochammad adalah OetoesanNja. Kedoea, mengerdjakan sembahjang. Ketiga memberikan zakat Keempat, mengerjakan ibadat Hadjdji, dan kelima berpoeasa boelan Ramadlan."

Shahabat Abi Hoerairah meriwajatkan hadist Djoendjoengan kita, Nabi Mochammad s.a.w. jang artinja:

,, Berpoeasalah kamoe sekalian, karena menampak boelan, dan berlebaranlah karena menampak boelan poela, Kalau langit gelap, maka tjoekoepkanlah hitoengan Sja'ban 30 hari”.


Dari doea ajat dan doea hadist terseboet kita dapat mengambil kesimpoelan, bahwa berpoeasa itoe adalah kewadjiban jang pasti bagi tiap-tiap orang Islam, kewadjiban jang tidak boleh ditinggalkan.

HIKMAD POEASA

Poessa jang telah mendjadi kewadjiban Oemmat Islam itoe tiada sedikit mengandoeng keoetamaan dan hikmat jang bermatjam-matjam. Dan djoega memberikan pendidikan jang sangat berharga pada kita semoea. Antaranja:

1. Memberikan istirahat pada peroet (alat pentjerna makanan) jang dalam masa seta hoen senantiasa bekerdja dengan tiada berhentinja, 

2. Membiasakan berlapar lapar. Karena lapar itoe dapat menoemboehkan dan mengoeatkan achlaq jang baik dan boedi-pekerti jang moelia. Tetapi karena diantara kita banjak orang jang salah, laloe mengganti siang djadi malam, dimana peroet diisi sepadat-padat nja dipenoehi lebih dari lainja, maka temboeslah satoe sifat Jang tidak baik, jang lekas marah, Sebagai kita ma'loemi pada oemoemnja orang jang berpoeasa itoe lekas marah, meskipoen karena perkara-perkara jang ketjil-ketjil. Hal ini boekan karena bawaan poeasanja, tetapi karena kesalahan orang jang berpoeasa. Jaitoe mengisi peroet padat-padat.

3. Memberi perasaan kepada orang jang kaja agar dapat merasakan betapakah penanggoengan saudara saudaranja jang miskin, jang seringkali tidak mendapat makanan. Dengan djalan berpoeasa itoelah mereka jang kaja-raja, dapat merasakan betapakah rasa lapar jang sebenar-benarnja dan betapakah rasa menahan peroet jang selaloe kosong. Dari sini terdapat peladjaran, bahwa kita tidak akan merasakan penderitaan orang lain, kalau kita be-lom mengalami sendiri. Kalau telah mengalami sendiri, baroe lah toemboeh angan-angan akan meringankan penderitaan orang lain. Karena itoelah maka sehabis berpoensa, laloe diiringi ke wadjiban berzakat fithrah. Sekarang hikmat jang moelia itoe hampir hilang, koerang diperhatikan oleh kaoem Moeslimin jang kaja teroetamanja. Hingga hikmat itoe hampir tinggal bekas-bekasnja, sedang orang memerloekan pertolongan beloem dapat tertolong semoeanja sebagaimana mestinja. Moedah-moedahan rasa soeka tolong-menolong itoe bertambah hari bertambah meressap dalam hati sekalian rakjat Indonesia choesoesnja, dan Asia Timoer Raya oemoemaja.


POEASA ‘IBADAT ISTIMEWA,

Poeasa adalah Ibadat dalam Agama lslam jang teristimewa. Karena koernia poeasa lebih banjak berlipat-ganda dari koernia 'ibadat lainnja. Firman Allah dalam Hadist Qoedsy, jang artinja:


,, Sekalian amal anak Adam adalah oentoek diri mereka sendiri, ketjoeali poeasa. Karena poeasa adalah oentoek Akoe. Dan Akoelah jang akan mengoerniai kebaikan kepada jang mendjalankannja. Poeasa itoe sebagai perisai (taméng). Kalau salah seorang dari kamose sedang dalam poeasa, maka djanganlah berkata-kata jang boesoek dan djangan selaloe berteriak-teriak Kalau orang memaki-maki kamoe atau akan menganiaja kamoe, katakanlah: ,, Saja sedang ber poeasa !. ” Demi Dzat jang mengoeasal djiwa Nabi Mochammad, sesoenggoehnja baoe moeloet orang jang berpoesan itoe bagi Allah lebih haroem dari minjak kastoeri, Tiap orang jang berpoeasa mempoenjai doea kegembiraan. Pertama di-waktoe berboeka, dan kedoea diwaktoe bertemoe Allah (di achirat)" 

Shahabat Abi Sa'ld Al-Choedry meriwajatkan Hadist Nabi kita, jang artinja:

,,Tidak ada seorangpoen jang berpoeasa sehari didjalan Allah, melainkan tentoe Allah mendjaoehkan dia dari neraka sampai perdjalanan 70 tahoen"


Dari doea hadist ini keoetamaan berpoeasa ternjata dengan sedjelas-djelasnja. Karena itoe marilah kita kerdjakan poeasa itoe dengan sebenar-benarnja, dan penoeh kejakinan dan keichlasan, toendoek dan patoeh mencoeroet perintah Allah, agar berbahagialah kita, teroetama bésok dihari kemoedian (di achirat).


KELONGGARAN BERBOEKA,

Sekarang sampailah keterangan ini pada kelonggaran berboeka jang perloe diketahoei oleh para jang bekerdja berat sebagai para Roomusha dan lain-lainnja, Menoeroet keterangan Sjech Zainoe'ddin Almalibary dalam kitabnja ,,Fatchoel Moe'ien", katja 53-54, jang artinja:

,,Dan diperkenankan berboeka dalam poeasa jang wadjib. Pertama, karena sakit jang membahajakan, jang sampai membolehkan bertajammoem (gantinja woedloe'). Oempamanja, karena chawatir lama semboeh penjakitnja djika dibawa berpoeasa. Kedoea, karena diperdjalanan djaoeh, jang membolehkan sembahjang dengan qashar (diringkas), boekan perdjalanan jang dekat atau perdjalanan karena ma' çiat. Sedang dalam perdjalanan djaoeh, apabila tidak membahajakan, lebih baik berpoeasa dari pada berboeka. Ketiga, karena chawatir roesak badannja. Oempananja karena terlaloe sangat dahaga atau terlaloe lapar, meskipoen dia berbadan sehat dan tidak dalam perdjalanan jang dibolehkan berboeka".

Menoeroet fatwa Sjech Adzra-'ie, jang artinja:

„Bagi orang jang mengetam padi dan sesamanja, wadjiblah dimalam harinja berniat poeasa, sedang kalau dia (pada siang harinja) mendapat kepajahan jang sangat, bolehlah ber boeka, dan kalau tidak, maka haroes dilandjoetkan poeasanja. Bagi mereka jang berboeka karena sesoeatoe sebab, wadjiblah menoenaikan (meng-qadla') dihari-hari jang lain, hingga tjoekoeplah hitoengannja dengan hitoengan hari poeasa jang tidak didjalaninja".


Dari keterangan-keterangan terseboet, djelaslah bahwa Agama Islam tidak menjoeroeh orang berhenti bekerdja karena poeasa. Bahkan sebaliknja Islam menghendaki langsoengnja pekerdjaan diwaktoe poeasa, terboekti dengan atoeran memberikan kelonggaran sebagai mana terseboet.


ΡΕΝΟΕΤΟΕР.

Sebagai penoetoep saja seroekan pada oemoem, meskipoen Agama Islam telah memberikan kelonggaran jang seloeas-loeasnja, tetapi hendaknja djanganlah hoekoem itoe dipermain-mainkan. Dan djanganlah kelonggaran itoe didjalankan, selama masih dapat menahan, dan teroetama sekali kalau tidak ada sebab jang membolehkan kelonggaran. Marilah kita menghargai hoekoem-hoekoem Agama Islam, agar tidak mengetjewakan dan tidak termasoek dalam golongan orang jang diseboet dalam firman Allah dalam soerat Al-Baqarah, ajat 41:

……Wala tastaruu bi’ayatii tsamanang qoliilaw waiyyayya fattakuun. 

Artinja:

Dan djanganlah kamoe pergantikan ajat-ajatKoe (tanda-tanda-Koe) dengan harga (barang) jang sedikit".

Moedah-moedahan Allah mengoerniakan petoendjoek, agar kita selaloe tetap bekerdja, meskipoen dalam keadaan berpoeasa, hingga tiada meroegikan oesaha menghasilkan segala maksoed, dan moedah-moedahan Allah memberikan taufiq (pertolongan), hingga kemenangan terachir segera tertjapai difihak kita. Amien!


Sabtu, 03 Februari 2024

Jika Pemkab Bekasi Berintegritas Jalani Rekomendasi BPK Terkait Desa


Oleh:

Izhar Ma’sum Rosadi, Warga Kab Bekasi, Pemerhati, Ketua Umum DPP LSM BALADAYA


Publik disajikan pemberitaan media yang memuat demo kepala desa di depan gedung DPR RI Senayan Jakarta, dan pada hari yang sama, Penjabat (Pj) Bupati Bekasi, Dani Ramdan bersama Ketua DPRD Kabupaten Bekasi, BN Holik Qodratullah, menerima Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Kinerja dan Kepatuhan Semester II Tahun 2023, terkait pemeriksaan kinerja atas efektivitas upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas tata kelola keuangan dan aset desa dalam rangka mengurangi kesenjangan dan menjamin pemerataan tahun anggaran 2021 sampai dengan semester I tahun 2023 pada Pemerintah Kabupaten Bekasi, yang diserahkan oleh Kepala Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI Perwakilan Provinsi Jawa Barat, di Auditorium Kantor BPK RI Perwakilan Provinsi Jawa Barat, Bandung, Rabu (31/1/2024). Sehingga dua momentum itu pun menjadi ketertarikan bagi penulis untuk mencermati tentang desa. 


Kepala desa memang sejatinya harus fokus dan berintegritas dalam membangun desa menjadi desa yang maju dan mandiri. Undang-Undang Desa telah menempatkan desa sebagai ujung tombak pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Desa diberikan kewenangan dan sumber dana yang memadai agar dapat mengelola potensi yang dimilikinya guna meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat desa. Untuk meningkatkan partisipasi komunitas desa, Pemerintah Indonesia memberikan Dana Desa kepada desa-desa di seluruh Indonesia sejak tahun 2015. Undang-undang Nomor 6/2014 tentang Desa dan Peraturan Pemerintah Nomor 60/2014 tentang Dana Desa yang berasal dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara mensyaratkan adanya pendapatan pemerintah desa yang berasal dari Dana Desa selain pendapatan lainnya guna mengefektifkan program berbasis desa secara merata dan berkeadilan. Dana ini memberikan kesempatan kepada pemerintah desa untuk mengelola dan memanfaatkan keuangan sesuai dengan kebutuhannya. Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Nomor 4 Tahun 2015 memungkinkan pemerintah desa untuk menggunakan Dana Desa sebagai penyertaan modal Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) untuk peningkatan perekonomian desa, pengelolaan potensi desa, peningkatan usaha, penciptaan pasar, perbaikan layanan umum, penciptaan lapangan pekerjaan dan peningkatan pendapatan masyarakat desa.


Desa dapat mendirikan badan usaha sebagaimana telah diamanatkan dalam Undang- Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang dipertegas kembali melalui Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa. BUM Desa sebagai salah satu program andalan pemerintah untuk meningkatkan kemandirian perekenomian di desa berpotensi memberikan manfaat dan kesejahteraan seluruh warga desa. Dampak ekonomi BUM Desa diharapkan dapat meningkatkan pendapatan asli desa yang pada gilirannya dapat meningkatkan pendapatan, mengurangi pengangguran serta penurunan tingkat kemiskinan.

Peningkatan infrastruktur ekonomi di desa / kelurahan seperti BUM Desa dan Badan Ekonomi Kelurahan dapat memberikan dampak terhadap peningkatan ekonomi masyarakat desa jika dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar. Manajemen pengelolaan infrastruktur, sumber daya manusia, dan luasnya sebaran informasi merupakan beberapa faktor yang dapat berkontribusi terhadap manfaat infrastrukur tersebut. Tujuan pendirian dari Badan Usaha Milik Desa adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa terutama untuk masyarakat kurang mampu. Semakin besarnya rumah tangga kurang mampu yang mengetahui informasi keberadaan badan usaha lokal memberikan indikasi desiminasi informasi tentang manfaat badan usaha lokal yang lebih tertarget untuk pengembangan ekonomi masyarakat miskin. Kemudian, apakah informasi tersebut hanya terbatas kepada grup tertentu seperti keluarga aparat kelurahan atau informasi badan usaha lokal diketahui oleh seluruh masyarakat di desa/kelurahan tersebut

Pemanfaatan badan usaha ekonomi lokal dapat memberikan dampak terhadap kesempatan pekerjaan masyarakat di sekitarnya. Pada bagian sebelumnya, kami memperlihatkan bahwa masyarakat memanfaatkan badan usaha lokal sebagai akses terhadap keuangan serta akses perdagangan. Jika pemanfaatan ini memberikan kesempatan untuk masyarakat melakukan wiraswasta, perdagangan, distribusi hasil pertanian atau aktifitas ekonomi lainnya, maka badan usaha lokal dapat memberikan kesempatan kerja kepada masyarakat sekitar.


Dalam upaya untuk mengurangi kemiskinan dan kesenjangan antara desa dan kota, salah satu fokus penggunaan Dana Desa adalah untuk pembangunan infrastruktur perdesaan. Setidak-tidaknya ada 4 (empat) jenis infrastruktur, yakni infrastruktur transportasi, penerangan, kesehatan, dan pertanian. Pertama, Pembangunan infrastruktur jalan bertujuan untuk mempercepat dan memperlancar akses transportasi manusia dan barang di daerah bersangkutan sehingga aktifitas ekonomi di wilayah tersebut bisa berjalan dengan lebih baik. Akses dan kualitas jalan dapat meningkatkan perkembangan usaha non-pertanian (nonfarm enterprises) di perdesaan sehingga meningkatkan kesempatan kerja dan pendapatan. Kedua, sebagaimana halnya dengan infrastruktur jalan, akses dan kualitas infrastruktur penerangan dapat meningkatkan perkembangan usaha non-pertanian (nonfarm enterprises) di perdesaan sehingga meningkatkan kesempatan kerja dan pendapatan. Ketiga, Infrastruktur pertanian, bahwa perbaikan kualitas infrastruktur pertanian, khususnya irigasi, setelah adanya Dana Desa. Perbaikan irigasi kecil dapat meningkatkan produksi pertanian, khususnya pertanian tanaman pangan, sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani, memperluas kesempatan kerja pertanian, dan memengaruhi aktivitas ekonomi di luar sektor pertanian. Dan keempat, Infrastruktur kesehatan dapat beupa infrastruktur sanitasi, air bersih, dan selokan.

Darius Beda Daton, Kepala Ombudsman RI Perwakilan Provinsi NTT (2022) dalam tulisannya yang berjudul “Mengawasi Dana Desa” menguraikan bahwa “’dalam kenyataannya, dana desa yang berlimpah tersebut rawan korupsi. Tata kelola dana desa belum sepenuhnya bebas dari korupsi. Tren korupsi kian meningkat dari tahun ke tahun. Praktek korupsi perangkat desa menempati urutan ketiga tertinggi setelah ASN dan swasta. Indonesia Corruption Watch (ICW) mencatat sejak tahun 2015-2020 sebanyak 676 terdakwa kasus korupsi berasal dari perangkat desa. Semuanya menjadikan anggaran desa sebagai objek korupsi. Dari segi pelaku, kepala desa adalah yang terbanyak menjadi pelaku korupsi. Area yang rawan antara lain saat perencanaan dan pencairan.’ Penyebab korupsi dana desa adalah karena minimnya kompetensi aparat desa, tidak adanya transparansi dan kurangnya pengawasan pemerintah dan potensi intervensi bagi masyarakat yang turut mengawasi serta adanya intervensi atasan dalam pelaksanaan kegiatan fisik yang tak sesuai perencanaan.

Pada pemerintahan daerah kabupatn Bekasi, misalnya,  BPK RI (2019), dalam “Laporan Hasil Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten Bekasi Tahun 2018: Buku III Laporan Hasil Pemeriksaaatas Kepatuhan Terhadap Peraturan Perundang-Undangan , Nomor : 34C/LHP/XVIII.BDG/05/2019, Tanggal : 24 Mei 2019,” halaman 44 – 45. menguraikan bahwa mekanisme pertanggungjawaban dana desa, alokasi dana desa, bagi hasil pajak dan retribusi daerah, serta bantuan keuangan belum sesuai ketentuan. Dari hasil pemeriksaan atas penatausahaan dan pengelolaan Dana Desa (DD) diketahui hal-hal sebagai berikut; Penatausahaan Penyaluran Dana Desa oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Bekasi Belum Sesuai Ketentuan; dan Desa belum menyampaikan LPJ realisasi pelaksanaan DD, ADD, Bagi Hasil Pajak dan Retribusi Daerah, dan Bantuan Keuangan kepada Bupati. Bahwa sesuai ketentuan yang berlaku, pemerintah desa wajib menyampaikan LPJ kepada Bupati. Berdasarkan dokumen rekapitulasi penyampaian laporan yang disampaikan oleh DPMD diketahui bahwa sampai dengan berakhirnya pemeriksaan tanggal 30 April 2019, dari 180 desa di Kabupaten Bekasi, hanya 48 desa yang menyampaikan LPJ tahap ketiga ke DPMD. Dan pada tahun 2019 pun, ada Eks Kepala Desa Karang Asih terlibat kasus korupsi anggaran desa sebesar 1 Miliar (Detik.com, 2019).

Berkaca pada hal tersebut di atas, ditambah lagi dengan rekomendasi BPK terkait pemeriksaan kinerja atas efektivitas upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas tata kelola keuangan dan aset desa dalam rangka mengurangi kesenjangan dan menjamin pemerataan tahun anggaran 2021 sampai dengan semester I tahun 2023 pada Pemerintah Kabupaten Bekasi, maka pemerintah daerah kabupaten Bekasi perlu lebih meningkatkan pembinaan dan pengawasan terkait tata kelola pemerintahan desa serta menjalankan rekomendasi BPK dengan sungguh-sungguh dan berintegritas, Selain itu juga perlu memastikan berkualitasnya infrastruktur perdesaan (BUM Des, transportasi, penerangan, kesehatan, perekonomian, dan pertanian). 

Dengan tawaran solusi tersebut, kita berharap jika pemkab Bekasi jalani rekomendasi BPK terkait desa dengan berintegritas maka dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat desa berupa peningkatan kualitas hidup, peningkatan kesejahteraan dan penanggulangan kemiskinan dan kesenjangan antara desa dan kota.



Sabtu, 03 Juni 2023

PENGELOLAAN APBD, JUJUR DAN PANCASILA

 PENGELOLAAN APBD, JUJUR DAN PANCASILA



Oleh: Izhar Ma'sum Rosadi, Warga kabupaten Bekasi Jawa Barat 


Pengelolaan anggaran pendapatan dan belanja daerah memiliki relevansi atas kebutuhan untuk melayani masyarakat di daerah dalam hal penyediaan barang dan jasa. Penggunaan APBD melalui terselenggarannya proyek proyek pemerintah akan menjadi pemantik tumbuhnya perekonomian bagi masyarakat  penerima manfaat program. Itu pun jika hal itu dilaksanakan secara merata, berkeadilan dan jujur.

Jujur ini penting dalam hal pemenuhan kewajiban pengguna APBD untuk dapat mengelolanya secara transparan dan akuntabel. 

Pemangku kebijakan sepantasmya melakukan model penggunaan APBD yang bermanfaat bagi masyarakat secara merata, berkeadilan dan jujur.

Perilaku pemangku kebijakan seperti itu, searah dengan apa yang diistilahkan oleh Stephen Covey (The 7 Habits of Highly Effective People) menyebutnya sebagai "the abundance mentality".

Apa itu the abundance mentality?

"It is the paradigm that there is plenty out there and enough to spare for everybody.  It results in sharing of prestige, of recognition, of profits, of decision making.  It opens possibilities, options, alternatives, and creativity."

Kita ikut senang melihat kesuksesan para pelaku dan atau pengguna APBD serta partisipasi masyarakat yang terlibat bersama-sama untuk mewujudkan sukses bersama pembangunan yang berkualitas di daerah .


Kebalikan dari itu adalah "the scarcity mentality" yang sering diidentikkan dengan spirit kapitalisme: mendorong kompetisi, ketegangan, bahkan perang. "The Scarcity mentality" adalah paradigma hidup menang-kalah (zero-sum).

"The Abundance Mentality, on the other hand, flows out of a deep inner sense of personal worth and security."

Menang karena menjadi pengguna anggaran lalu mengalahkan rakyat? 


Jika pengadaan barang dan jasa sudah direncanakan dengan anggaran yang sesuai agar menjadi barang yang bagus dan berkualitas, kenapa sih hasilnya menjadi barang kurang berkualitas dan pada terjadi kekurangan volume dan lebih bayar?

Jika program Pendaftaran Tanah Sistem Lengkap (PTSL) itu gratis, kenapa harus ada pungli dari ratusan ribu hingga  jutaan rupiah?

Jauh sebelum Covey, para leluhur kita, juga para pendiri bangsa paham akan kejujuran.

Jika kita ingin Pancasila punya manfaat  dari sekedar omong kosong belaka, kita harus menemukan kembali mentalitas kejujuran.

Kejujuran adalah salah satu karakter bangsa Indonesia yang tercermin dalam pancasila yang termasuk dalam nilai-nilai Kemanusian yang Adil dan Beradab yang tercantum dalam Pancasila. Kejujuran termasuk ke dalam nilai moral.

Sabtu, 08 Oktober 2022

Menjadi Narasumber Jurnalis Dokumenter dari Prancis Terkait Udara Bersih

 

Menjadi Narsum Jurnalis Dokumenter dari Prancis terkait Udara Bersih, pada 25 September 2022, di Kabupaten Bekasi Jawa Barat.





Sabtu, 24 September 2022

Bias Metodologis Kehumasan atas Viral ASN dan TKK Pemkot Bekasi Karaoke Berseragam SMA


Oleh ;

Izhar Ma’sum Rosadi (Pemerhati Kehumasan Pemerintah dan Ketua Umum Perkumpulan Baladaya)

(Tulisan ini pernah dipublish di advocatnews.com, trustmedia.id, dan info baru.co.id, pada 24 September 2022)


ADANYA perilaku Aparatur Sipil Negara (ASN) di Lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi yang menjabat sebagai Lurah Jatirangga dan Tenaga Kerja Kontrak (TKK) pada Sekretariat DPRD (Sekwan) karaoke berseragam SMA dan Pramuka, menyebabkan viral dan banyak media online yang melakukan pemberitaan atas kejadian tersebut. Lantas kemudian bagaimana Pemkot Bekasi dalam menangani perilaku ASN dan TKK karaoke berseragam SMA. 

Pada tanggal 12 September 2022 pemerintah kota Bekasi melalui Sekretaris Daerah (Sekda) Reny Hendrawati bersama Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Karto , serta Hanan Tarya selaku Sekretaris Dewan (Sekwan) telah melakukan klarifikasi yang telah dilakukan oleh bawahannya, dalam pernyataannya terdapat bahwa kejadian tersebut diluar jam kerja dimana para ASN serta TKK sudah pulang lalu melakukan perayaan pesta ulang tahun salah satu pegawai TKK di lingkungan Sekretaris dewan.


Menilik pada pernyataan Humas DPRD Kota Bekasi ke Publik, melalui situs https://dprd.bekasikota.go.id/read/klarifikasi-pemberitaan-trustmediaid diakses pada 19 September 2022, bahwa pada poin kelima memang diyatakan bahwa kegiatan tersebut dilaksanakan di luar jam kantor, atau digelar setelah pulang kerja. Pernyataan tersebut patut dikritisi dari sisi Kehumasan Pemerintah.


Kita ketahui bahwa praktik kehumasan sudah dikenal sejak awal abad ke-20, dan hingga saat ini definisi dari public relation(PR) sudah berkembang seiring dengan perubahan peran dan perkembangan teknologi (PRSA, 2012). 


Definisi kehumasan dari Frank Jefkins (dalam Morissan (2018),  dalam bukuya yang berjudul “Manajemen Public Relations: Strategi Menjadi Humas Profesional”, PR adalah semua bentuk komunikasi yang terencana, baik kedalam maupun keluar, antara satu organisasi dengan khalayaknya dalam rangka mencapai tujuan-tujuan spesifik yang berlandaskan pada saling pengertian. Menurutnya, humas pada intinya senantiasa berkenaan dengan kegiatan penciptaan pemahaman melalui pengetahuan dan melalui kegiatan-kegiatan. Dengan harapan akan muncul suatu dampak positif.


Menurut Public Relation Society of America (2012), menyebutkan ‘public relation is a strategic communication process that builds mutually beneficial relationship between organizations and their public’. Disebutkan juga bahwa selain berperan untuk mempengaruhi, terlibat, dan membangun hubungan dengan stakeholders, peran penting lain dari humas adalah mengantisipasi, menganalisis, dan menginterpretasi opini publik, sikap, serta isu yang bisa memberikan dampak, baik atau buruk, pada rencana maupun jalannya organisasi.

Fungsi paling dasar humas dalam pemerintahan adalah membantu menjabarkan dan mencapai tujuan program pemerintahan, meningkatkan sikap responsif pemerintah, serta memberi publik informasi yang cukup untuk dapat melakukan pengaturan diri sendiri (Lattimore, 2010, dalam Lubis, 2012). 


Humas pemerintah itu menjalankan fungsi-fungsi, seperti yang dinyatakan dalam Inpres Nomor 9 Tahun 2015 tentang Pengelolaan Komunikasi Publik, yaitu (a) nation-branding, (b) sosialisasi, (c) edukasi, (d) kampanye program, dan (e) kontranarasi.

 

Kembali kepada penanganan pemkot Bekasi  atas masalah disebutkan di atas, terkesan masalah itu  sudah ditangani secara kedinasan dan clear. Lalu kemudian menyampaikan ke public bahwa kejadian itu adalah diluar jam kerja, tanpa data pendukung apapun. 

Penulis menilai bahwa pernyataan  tersebut tidak sesuai dengan Inpres Nomor 9 Tahun 2015 tentang Pengelolaan Komunikasi Publik, yang mana pada Diktum Pertama angka kedua  menyebutkan bahwa “menyebarluaskan kepada publik narasi tunggal dan data pendukung lainnya….. ”


Kenapa?  ASN dan TKK tersebut melakukan kegiatan karaoke berseragam SMA pada hari Jum'at tanggal 26 Agustus 2022 yang mana bukti pendukung seperti Bill/nota karaoke serta tiket parkir di lingkungan tempat karoke tersebut tidak pernah dimunculkan ke  publik. 


Pada hal, berdasarkan pada penelusuran investigatif yang penulis lakukan bersama tim, kami mendapatkan data dari sumber anonym bahwa kejadian tersebut terjadi pada setidak-tidaknya pukul 15.00 sedangkan jam pulang kerja pada hari Jum'at sesuai perwal Kota Bekasi No 06 tahun 2017 pada pukul 16.00 WIB. Idealnya  Pemkot Bekasi pun sudah harus menjalankan aturan sebagaimana pada Surat Edaran Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2022 Tentang Kewajiban Menaati Ketentuan Jam Kerja Bagi Aparatur Sipil Negara, tertanggal 17 Juni 2022.


Jika orientasi praktik kehumasan pemkot Bekasi adalah  bandwagon effect dengan memanfaatkan media, maka salah satu yang akan dipertaruhkan adalah integritas! Lebih mengerikan lagi jika institusi pemerintah hanya jadi “tukang suntik” opini. Meminjam perspektif Hypodermic Needle Theory, counter pemberitaan  Humas DPRD Kota Bekasi melalui  website resminya  bisa saja diposisikan sebagai pembentuk opini publik dengan memanfaatkan media seperti jarum yang menyuntikkan informasi kepada khalayak agar terbentuk opini publik yang dikehendaki. Tentu ini cara berpikir tentang hubungan media-khalayak yang jadul! Tak semudah itu khalayak dibentuk persepsinya oleh Humas. Bias metodologis dan etis dalam praktek kehumasan yang dirilis melalui media, dengan cepat akan bisa diraba oleh banyak pihak.*


Senin, 04 Juli 2022

Selasa, 28 Juni 2022

OTT KPK Di Bekasi : Ada (Bukan) Raja , (Tapi) Koruptor

 Oleh: Izhar Ma’sum Rosadi, warga Bekasi, tinggal di pojokan Utara, Pemerhati Kebijakan Publik dan Ketua Umum Perkumpulan  Baladaya.


(Tulisan ini pernah dipublish di Kabarjabardaerah.com pada tanggal 22 Oktober 2018)


Demi Tak Terganggunya Distribusi Kesejahteraan Rakyat, puji syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa atas kinerja Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang tekah hadir di kabupaten Bekasi dan melakukan Operasi Tangkat Tangan (OTT) mengenai dugaan suap perizinan Meikarta di kabupaten Bekasi. Suatu kehadiran yang di nanti publik.


Kabupaten Bekasi merupakan daerah yang terdapat MIGAS dan ribuan perusahaan dalam Kawasan-Kawasan Industri berskala Internasional. Sudah sepatutnya infrastruktur untuk memenuhi kebutuhan dasar warga di kabupaten Bekasi ini juga sebanding dengan pesatnya pembangunan perekonomian (oleh pihak BUMN dan swasta) di kabupaten ini. 


Ada dua hal yang disoroti dalam tulisan ini, sebagai catatan kritis, yakni program Bekasi Terbuka dan Kinerja Inspektorat Daerah.

Hal yang menonjol saat ini adalah munculnya publisitas pemerintah daerah kabupaten Bekasi melalui salah satu program yakni Program Bekasi Terbuka. Program Bekasi Terbuka yang dikelola pemerintahan daerah kabupaten Bekasi patut diapresiasi juga. Namun perut ini seakan melilit menonton video acara program tersebut yang diselenggarakan beberapa saat lalu yang menguraikan tentang program pembangunan di kabupaten bekasi.

Program Bekasi Terbuka menjadi instrumen manajemen reputasi birokrasi. Lantas publik harus bagaimana? Di situlah letak kritisisme yang harus dibangun oleh masyarakat. Kita jangan terkecoh oleh kemasan wah bernama Program Bekasi Terbuka! Terlebih model program ini mirip-mirip reality show. Seluruh program pembangunan dan mekanismenya bersama-sama diuraikan di etalase bernama Program Bekasi Terbuka. Publik bisa melihat dan berpartisipasi melalui mengkroscek kebenaran paparan program pembangunan dan mekanismenya berdasarkan realita sesungguhnya.

Dalam industri media, meminjam terminologi Denis McQuail, model ini dikenal sebagai model ekspresi. Yakni khalayak diperkenalkan pada suatu program dan mereka seintensif mungkin dilibatkan secara psikologis sehingga bisa muncul kepuasan bersama.

Etalase citra itu harus diposisikan tidak berlebihan, bahkan perlu kehati-hatian dan memuat tautan kebenaran terutama bagi birokrat yang akan mengisi etalase. Bagi rakyat yang akan menerima pelayanan birokrasi jangan mudah termanipulasi oleh realitas pulasan, namun bangun kritisisme publik. Jika muatan materi Program Bekasi Terbuka penuh kepura-puraan maka kita bisa melabeli etalase tersebut dengan tulisan besar “kepalsuan yang otentik!”.


Inspektorat Kabupaten Bekasi Harusnya Tidak Mandul


Adanya OTT KPK di kabupaten Bekasi dengan sejumlah pejabat yang tersangkut korupsi menunjukkan bahwa inspektorat daerah tidak berfungsi sebagaimana mestinya alias mandul. Seyogyanya inspektorat menjadi lembaga kontrol yang efektif, mencegah dan menindak penyimpangan aparat birokrasi, bukan justru menjadi bagian dari masalah dalam tindak penyimpangan di birokrasi.


Alihpun secara struktural memang posisi inspektorat daerah itu adalah bagian dari pemerintah atau eksekutif. Di struktur inspektorat daerah, kepala daerah (bupati) menduduki posisi sebagai pelindung atau pembina.

Dalam konteks ini, inspektorat daerah jangan kemudian bingung bagaimana mau mengawasi atau memeriksa dugaan penyimpangan di tubuh birokrasi pemerintah (di dinas-dinas, misalnya) jika pihak yang akan diawasi atau diperiksa adalah atasannya sendiri atau mungkin temannya sendiri. Inspektorat daerah seyogyanya tidak perlu merasa ewuh pakewuh atau segan untuk memeriksa dan menindaklanjuti dugaan penyimpangan, termasuk dugaan korupsi.

Fungsi dan peran inspektorat daerah dalam rangka pemberantasan korupsi di daerah sangat diharapkan. Adagium bahwa mengungkap ’’borok’’ birokrasi berarti mengungkap ’’aib’’ teman sendiri, tak perlu dihindari inspektorat daerah. Dalam kerja dan kinerjanya, inspektorat daerah tak etis jika cenderung mencari amannya saja. Fungsi-fungsi dan peran pengawasan serta pemeriksaan yang selama ini dilakukan inspektorat daerah seyogyanya dilakukan secara sungguh-sungguh dan tak sekadar formalitas belaka. Jika harus berhadapan dengan kasus penyimpangan atau dugaan korupsi di birokrasi pemerintah, inspektorat daerah harus mampu menunjukkan ’’taringnya’’.

Namun, dengan mirisnya, saya harus mengakui bahwa adanya OTT KPK di kabupaten Bekasi menunjukkan bahwa kinerja inspektorat tidak maksimal. Karena kasus korupsi sudah meng-endemi atau mewabah dan melibatkan pejabat birokrasi, ditambah mandulnya lembaga konvensional seperti inspektorat daerah yang berjalan tidak efektif, harapan public di kabupaten Bekasi agar KPK mengungkap dugaan dugaan tindak pidana korupsi di semua sector, baik DPRD, pemerintahan daerah, pemerintahan kecamatan dan pemerintahan desa.


Benarkah bersihnya DPRD, pemerintah kabupaten, kecamatan, desa dari kasus korupsi akan hanya menjadi sebuah mimpi? Memang tidak mudah memberantas korupsi. Ia sudah menjadi penyakit sosial yang selama sekian puluh tahun dianggap “wajar”. Namun sesulit apapun, pemberantasan korupsi harus terus diupayakan dengan berbagai cara. Lantas kapan kabupaten kita ini akan terbebas dari korupsi? Entahlah, pertanyaan ini yang mungkin sulit untuk dijawab. 


Mencoba teriak korupsi dalam lingkup pemerintahan desa, kecamatan, atau di kabupaten???, mungkin saja anda akan dijuluki Pahlawan Kesiangan yang akan dimusuhi oleh semua unsur pemerintah dan masyarakat. Apalagi jika berani melaporkan terjadinya korupsi ??? Tapi apakah kita akan terus diam, melihat kedzaliman ini? Putus asa kah kita…Oh tentu saja tidak! Peranserta masyarakat dalam pencegahan dan pemberatasan tindak pidana korupsi harus terus dilakukan. Mengapa? Produk kebijakan reformasi dengan adanya desentralisasi kekuasaan dan keuangan, bukannya melahirkan kekuasaan dan anggaran daerah yang mengabdi kepada rakyat, tapi dalam fakta empirisnya lebih mengabdi pada dirinya dan kepentingan kelompoknya. Lahirlah apa yang sering dinamakan desentralisasi korupsi. Otonomi telah melahirkan (bukan) raja-raja kecil di daerah melainkan Koruptor-koruptor di daerah.***1

Minggu, 19 Juni 2022

STOP PUNGLI PTSL:Pengertian, Tujuan, dan Biaya PTSL






Oleh

Izhar Ma’sum Rosadi, Pemerhati Kebijakan Publik, Pendiri  Perkumpulan Baladaya, Penasehat di Badar Nusantara News. Com, pernah nyantri di Ponpes Al-Qur'an al- Munawwir Jawa Tengah dan Ponpes as Salafiyah Nurul Huda Jember Jawa Timur.


Program PTSL (Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap) merupakan salah satu kegiatan Prioritas Reforma Agraria dalam kerangka program Prioritas Nasional Pengentasan Kemiskinan melalui legalisasi bidang tanah masyarakat.

Tulisan ini, merujuk pada sumber otentik, salah satunya  dari Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI),  disajikan guna  menambah pemahaman pada masyarakat tentang PTSL  Tulisan disajikan dalam 3 tematik, yakni pengertian, tujuan dan biaya PTSl, berikut ini.

Pengertian PTSL

Berdasarkan Pasal 1 ayat (2) Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2017 tentang Percepatan Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap dijelaskan bahwa Pendaftaran Tanah Sistematik Lengkap yang selanjutnya disingkat PTSL adalah kegiatan Pendaftaran Tanah untuk pertama kali yang dilakukan secara serentak bagi semua obyek Pendaftaran Tanah di seluruh wilayah Republik Indonesia dalam satu wilayah desa/kelurahan atau nama lainnya yang setingkat dengan itu, yang meliputi pengumpulan dan penetapan kebenaran data fisik dan data yuridis mengenai satu atau beberapa obyek Pendaftaran Tanah untuk keperluan pendaftarannya.

Direktorat Jenderal Infrastruktur Keagrariaan (2016:17) menjelaskan bahwa salah satu tahapan dari kegiatan pendaftaran tanah adalah kegiatan pengumpulan data fisik. Pengumpulan data fisik meliputi:1) Penetapan batas bidang tanah, 2) Pengukuran batas bidang tanah, 3) Pemetaan bidang tanah, 4) Pengumuman data fisik, 5) Menjalankan prosedur dan memasukkan data dan informasi yang berkaitan dengan data fisik bidang tanah di aplikasi KKP dengan berpedoman kepada ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang pengukuran dan pemetaan bidang tanah. 

Pengumpulan data fisik dalam rangka percepatan pendaftaran tanah sistematis lengkap akan optimal hasilnya apabila dalam pelaksanaan pengukuran dan pemetaan bidang tanah dilaksanakan secara sistematis mengelompok dalam satu wilayah desa/kelurahan lengkap, disamping harus didukung dengan adanya ketersediaan peta dasar pendaftaran tanah. Adapun obyek PTSL meliputi seluruh bidang tanah tanpa terkecuali, baik bidang tanah yang belum ada hak atas tanahnya maupun bidang tanah hak, baik merupakan tanah aset Pemerintah/Pemerintah Daerah, tanah Badan Usaha Milik Negara/Badan Usaha Milik Daerah, tanah desa, Tanah Negara, tanah masyarakat hukum adat, kawasan hutan, tanah obyek landreform, tanah transmigrasi, dan bidang tanah lainnya.

Tujuan PTSL

Menurut pasal 2 ayat (2) Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2017 tentang Percepatan Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap dijelaskan bahwa Pendaftaran Tanah Sistematik Lengkap, Tujuan dari program PTSL ini adalah untuk percepatan pemberian kepastian hukum dan perlindungan hukum Hak atas Tanah masyarakat secara pasti, sederhana, cepat, lancar, aman, adil, merata dan terbuka serta akuntabel, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat dan ekonomi negara, serta mengurangi dan mencegah sengketa dan konflik pertanahan.

Biaya PTSL

Selanjutya, berkaitan dengan pembiayaan PTSL, BPK RI dalam Buku Laporan Hasil Pemeriksaan Kinerja atas Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap pada Kementerian ATR/BPN ..." Nomor: 211/LHP/XVI/12/2021 tanggal 31 Desember 2021, menguraikan bahwa:

Program PTSL TIDAK DIPUNGUT BIAYA. Peserta PTSL hanya dibebankan biaya pra PTSL yang digunakan untuk membayar kegiatan penyediaan dokumen (surat tanah untuk tanah yang belum memiliki surat tanah), pembuatan dan pemasangan tanda batas dan materai, dan kegiatan operasional petugas kelurahan/desa.

Pembebanan biaya pra PTSL telah diatur melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga Menteri, yaitu Menteri ATR/Kepala BPN, Menteri Dalam Negeri, dan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Nomor 25/SKB/V/2017, Nomor 590-3167A Tahun 2017, dan Nomor 34 Tahun 2017 tentang Pembiayaan Persiapan Pendaftaran Tanah Sistematis. Berdasarkan SKB tiga Menteri tersebut, besaran biaya yang diperlukan untuk persiapan pelaksanaan kegiatan PTSL terbagi dalam lima Kategorisasi Biaya Pra PTSL, yakni   Kategori I untuk wilayah Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur, sebesar Rp450.000,00; Kategori II untuk wilayah Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat sebesar Rp350.000,00; Kategori III untuk wilayah Gorontalo, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Sumatera Utara, Aceh, Sumatera Barat, Kalimantan Timur sebesar Rp250.000,00;Kategori IV untuk wilayah Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Bengkulu, Kalimantan Selatan sebesar Rp200.000,00; dan Kategori V untuk wilayah Provinsi di wilayah Jawa dan Bali sebesar Rp150.000,00.

Untuk menjalankan program Reforma Agraria melalui kegiatan PTSL, terdapat beberapa sumber pembiayaan yang terdiri dari Rupiah Murni (RM), Hibah Langsung Dalam Negeri, dan Pinjaman Luar Negeri (PLN). Sumber-sumber pembiayaan PTSL; 1) Rupiah Murni (RM)yang berasal dari  DIPA Satuan Kerja , hal itu tercantum dalam DIPA Satuan Kerja sejak disahkan; 2)Hibah Langsung Dalam Negeri yang berasal dari  a. APBD b. CSR BUMN/BUMD c. CSR Swasta d. Masyarakat/Kelompok Masyarakat. Bahwa : (1)Tata cara hibah mengacu pada Surat Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3262/3.3- 100/VIII/2017 tanggal 28 Agustus 2017; (2)Menjadi target PTSL, dapat berlanjut pada tahun berikutnya sesuai isi Naskah Perjanjian; (3)Satuan biaya sertipikat mengacu pada biaya PTSL tahun berjalan; 3) Pinjaman Luar Negeri (PLN)yang berasal dari  Bank Dunia yang telah tercantum dalam DIPA Satuan Kerja, berupa  Programme to Accelerate Agrarian Reform (One Map Policy) Di 7 (tujuh) Provinsi: 1. Riau 2. Jambi 3. Sumatera Selatan 4. Kalimantan Barat 5. Kalimantan Tengah 6. Kalimantan Selatan 7. Kalimantan Timur. Pertanggungjawaban dan pelaporan berpedoman pada petunjuk teknis pencairan anggaran PHLN.

Dari uraian di atas, kita daoat menyimpulkan bahwa PTSL akan dapat membantu masyarakat miskin berpenghasilan tak menentu dalam upaya legalisasi tanah miliknya. 


Jadi, jika sampai ada pungutan ilegal dan pelayanan PTSL yang tidak sesuai prosedur dan tidak berkeadilan dan beradab, maka dapat mengganggu tercapainya program prioritas nasional dalam kerangka pengentasan kemiskinan.


Panitia Ajudikasi dan Satgas PTSL itu Dibentuk dan Di sumpah Lho


Pelaksanaan kegiatan PTSL berada di tingkat Kantor Pertanahan dan dilaksanakan melalui Panitia Ajudikasi dan Satgas. Kepala Kantor Pertanahan membentuk dan menetapkan Panitia Ajudikasi PTSL dan satgas, yang dituangkan dalam bentuk keputusan. Susunan Panitia Ajudikasi PTSL berpedoman pada Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 6 Tahun 2018 tentang Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap. Panitia Ajudikasi PTSL dibantu oleh Satgas Fisik, Satgas Yuridis dan Satgas Administrasi.

Panitia Ajudikasi PTSL terdiri atas: a) Ketua merangkap anggota, yang dijabat oleh pegawai Kantor Pertanahan; b) Wakil Ketua bidang fisik merangkap anggota, yang dijabat oleh pegawai Kantor Pertanahan yang memahami urusan infrastruktur pertanahan; c) Wakil Ketua bidang yuridis merangkap anggota, yang dijabat oleh pegawai Kantor Pertanahan yang memahami urusan hubungan hukum pertanahan; d) Sekretaris, yang dijabat oleh pegawai Kantor Pertanahan; e) Kepala Desa/Kelurahan setempat atau Pamong Desa/Kelurahan yang ditunjuknya; dan f) Anggota dari unsur Kantor Pertanahan, sesuai kebutuhan.

Apabila dalam keadaan tertentu antara lain keterbatasan SDM, minimnya pelayanan rutin, maka Ketua Panitia Ajudikasi PTSL dapat dijabat oleh Kepala Kantor Pertanahan, dan pelaksanaan pelantikan sebagai Ketua Panitia Ajudikasi PTSL dilakukan oleh Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional setempat. Dengan mempertimbangkan ketersediaan sumber daya manusia, setiap Panitia Ajudikasi PTSL dapat dibentuk untuk lebih dari 1 (satu) atau untuk beberapa wilayah kecamatan dengan melibatkan unsur perangkat setiap desa/kelurahan yang bersangkutan. Panitia Ajudikasi PTSL dibantu oleh Satgas Fisik, Satgas Yuridis dan Satgas Administrasi. Satgas Fisik terdiri dari unsur Aparatur Sipil Negara Kementerian, Pegawai Tidak Tetap/Pegawai Pemerintah Non Pegawai Negeri Kementerian, Surveyor Kadaster Berlisensi, dan Asisten Surveyor Kadaster Berlisensi dan/atau KJSKB. Satgas fisik diketuai oleh Wakil Ketua bidang fisik Panitia Ajudikasi PTSL. Dalam melaksanakan tugasnya Satgas fisik sebagai Pengumpul Data fisik dapat dibantu oleh Petugas Pengumpul Data Pertanahan (Puldatan) yaitu kelompok masyarakat yang diberi pembekalan dan ditugaskan untuk menjadi fasilitator sekaligus pelaksana proses pengumpulan data fisik dan pengumpulan data yuridis melalui tata cara dan pembiayaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. Jumlah Satgas Fisik pada setiap Kantor Pertanahan dapat dibentuk lebih dari 1 (satu) dengan menyesuaikan target yang ditetapkan. Satgas Yuridis terdiri dari unsur Aparatur Sipil Negara Kementerian, Pegawai Tidak Tetap/Pegawai Pemerintah Non Pegawai Negeri Kementerian, Perangkat Desa/Kelurahan, perangkat RT/RW/Lingkungan, organisasi masyarakat, Bintara Pembina Desa (BABINSA), Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (BHABINKAMTIBMAS) dan/atau unsur masyarakat lainnya. Satgas Yuridis diketuai oleh Wakil Ketua bidang yuridis Panitia Ajudikasi PTSL. Dalam melaksanakan tugas pengumpulan data yuridis, Satgas Yuridis dapat dibantu oleh unsur-unsur masyarakat antara lain RT/RW, Organisasi Kepemudaan (Karang Taruna), Kelompok Masyarakat, BABINSA, BHABINKAMTIBMAS, Profesi atau bekerja sama dengan Perguruan Tinggi yang ada di wilayahnya sebagai Pengumpul Data Yuridis melalui tata cara dan pembiayaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Jumlah Satgas Yuridis pada setiap Kantor Pertanahan dapat dibentuk lebih dari 1 (satu) dengan menyesuaikan target yang ditetapkan. Satgas Administrasi terdiri dari unsur Aparatur Sipil Negara Kementerian, dan dapat dibantu oleh Pegawai Tidak Tetap/Pegawai Pemerintah Non Pegawai Negeri Kementerian. Satgas Administrasi diketuai oleh Sekretaris Panitia Ajudikasi PTSL. Satgas Administrasi di bawah koordinasi dan membantu pelaksanaan tugas Sekretaris Panitia Ajudikasi PTSL. Satgas Administrasi membantu menyusun dan mengelola kebutuhan sarana dan prasarana selama kegiatan PTSL berlangsung. Panitia Ajudikasi PTSL, mempunyai tugas: a) Menyiapkan rencana kerja dan jadwal kegiatan PTSL; b) Mengumpulkan data fisik dan dokumen asli data yuridis semua bidang tanah yang ada di wilayah yang bersangkutan serta memberikan tanda penerimaan dokumen kepada pemegang hak atau kuasanya; c) Memberikan asistensi terhadap kelengkapan persyaratan bukti kepemilikan/penguasaan tanah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; d) Memeriksa kebenaran formal data fisik dan data yuridis alat bukti kepemilikan atau penguasaan tanah; e) Mengumumkan data fisik dan data yuridis bidang-bidang tanah yang sudah dikumpulkan; f) Memfasilitasi penyelesaian sengketa antara pihak-pihak yang bersangkutan mengenai data yang disengketakan; g) Mengesahkan hasil pengumuman sebagaimana dimaksud dalam huruf e, sebagai dasar pembukuan hak atau pengusulan pemberian hak serta pendaftaran hak; h) Menyampaikan laporan secara periodik dan menyerahkan hasil kegiatan kepada Kepala Kantor Pertanahan; dan i) Melakukan supervisi pelaksanaan dan hasil pekerjaan Satgas Fisik dan Satgas Yuridis. Hasil Kegiatan (Output) dari kegiatan ini adalah SK Kepala Kantor Pertanahan mengenai Panitia Ajudikasi PTSL dan Satgas. Berita Acara Pengangkatan Sumpah Panitia Ajudikasi PTSL dan Satgas, dan SK Pembentukan Puldatan (jika ada).

Salah satu contohnya bahwa Panitia ajudikasi PTSL dan Satgas itu di SUMPAH, yaitu berdasarkan pada hasil penelusuran informasi di Kabupaten Bekasi, bahwa Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Bekasi, Drs. Hiskia Simarmata, M.Si melalui surat Nomor : 8/UND-32.16.UP.02.03/I/2022 Bekasi, tertanggal 4 Januari 2022 mengundang 54 Kepala DEsa di Kabupaten Bekasi (1. Kepala Desa Pantai Hurip, Kecamatan Babelan; 2. Kepala Desa Hurip Jaya, Kecamatan Babelan; 3. Kepala Desa Bunibakti, Kecamatan Babelan; 4. Kepala Desa Muarabakti Kecamatan Babelan; 5. Kepala Desa Kedung Jaya, Kecamatan Babelan; 6. Kepala Desa Kedung Pengawas, Kecamatan Babelan; 7. Kepala Desa Sukabungah, Kecamatan Bojong Mangu; 8. Kepala Desa Kertamukti, Kecamatan Cibitung; 9. Kepala Desa Karang Sentosa, Kecamatan Karang Bahagia; 10.Kepala Desa Karang Setia, Kecamatan Karang Bahagia; 11.Kepala Desa Karanganyar, Kecamatan Karang Bahagia; 12.Kepala Desa Karangmukti, Kecamatan Karang Bahagia; 13.Kepala Desa Karangrahayu, Kecamatan Karang Bahagia; 14.Kepala Desa Karangsatu, Kecamatan Karang Bahagia; 15.Kepala Desa Sukaraya, Kecamatan Karang Bahagia; 16.Kepala Desa Bojongsari, Kecamatan Kedung Waringin; 17.Kepala Desa Karang Harum, Kecamatan Kedung Waringin; 18.Kepala Desa Karang Mekar, Kecamatan Kedung Waringin; 19.Kepala Desa Mekarjaya, Kecamatan Kedung Waringin; 20.Kepala Desa Karanghaur, Kecamatan Pebayuran; 21.Kepala Desa Karangjaya, Kecamatan Pebayuran; 22.Kepala Desa Karangreja, Kecamatan Pebayuran; 23.Kepala Desa Karangsegar, Kecamatan Pebayuran; 24.Kepala Desa Kertasari, Kecamatan Pebayuran; 25.Kepala Desa Sumber Urip, Kecamatan Pebayuran; 26.Kepala Desa Sumberreja, Kecamatan Pebayuran; 27.Kepala Desa Sumbersari, Kecamatan Pebayuran; 28.Kepala Desa Banjarsari, Kecamatan Sukatani; 29.Kepala Desa Sukahurip, Kecamatan Sukatani; 30.Kepala Desa Sukamanah, Kecamatan Sukatani; 31.Kepala Desa Sukamulya, Kecamatan Sukatani; 32.Kepala Desa Sukadaya, Kecamatan Sukawangi; 33.Kepala Desa Sukaringin, Kecamatan Sukawangi; 34.Kepala Desa Sukawijaya, Kecamatan Tambelang; 35.Kepala Desa Sukamaju, Kecamatan Tambelang; 36.Kepala Desa Sukaraja, Kecamatan Tambelang; 37.Kepala Desa Sukarapih, Kecamatan Tambelang; 38.Kepala Desa Sukarahayu, Kecamatan Tambelang; 39.Kepala Desa Sukamantri, Kecamatan Tambelang; 40.Kepala Desa Sukabakti, Kecamatan Tambelang; 41.Kepala Desa Jatimulya, Kecamatan Tambun Selatan; 42.Kepala Desa Mangunjaya, Kecamatan Tambun Selatan; 43.Kepala Desa Sumber Jaya, Kecamatan Tambun Selatan; 44.Kepala Desa Jejalenjaya, Kecamatan Tambun Utara; 45.Kepala Desa Karang Satria, Kecamatan Tambun Utara; 46.Kepala Desa Satria Mekar, Kecamatan Tambun Utara; 47.Kepala Desa Sri Amur, Kecamatan Tambun Utara; 48.Kepala Desa Sri Jaya, Kecamatan Tambun Utara; 49.Kepala Desa Sri Mahi, Kecamatan Tambun Utara; 50.Kepala Desa Srimukti, Kecamatan Tambun Utara; 51.Kepala Desa Pahlawan Setia, Kecamatan Taruma Jaya; 52.Kepala Desa Pantai Makmur, Kecamatan Taruma Jaya; 53.Kepala Desa Samudra Jaya, Kecamatan Taruma Jaya; 54.Kepala Desa Pusakarakyat, Kecamatan Taruma Jaya) ke 54 desa merupakan Daftar Lokasi PTSL Tahun Anggaran 2022.

Undangan tersebut dalam rangka Pengambilan Sumpah dan Pelantikan Panitia dan Satuan Tugas Program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) Tahun Anggaran 2022


Lalu kemudian, berkaitan dengan pelaksanaan program PTSL di Kabupaten Bekasi, Bupati Bekasi memberikan arahan melalui Surat Edaran Nomor PM.05/01/SE-66?DPMD/2022 Tentang Pendaftaran Tanah  Sistematis  Lengkap (PTSL) di Kabupaten Bekasi, tertanggal  15 September 2022 menguraikan bahwa berdasarkan Instruksi Presiden RI Nomor 2 Tahun 2018 terkait Pendaftaran Tanah  Sistematis  Lengkap (PTSL), program ini direncanakan akan berlangsung hingga tahun 2025, maka penting disampaikan kepada Camat dan Pemerintahan Desa untuk; Pelaksanaan pembuatan sertifikat tanah melalui Pendaftaran Tanah  Sistematis  Lengkap (PTSL), Pemerintahan Desa dalam pelaksanaannya wajib sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku; Pemerintah Desa wajib tetap menjalankan pelayanan kepada masyarakat untuk program pemerintah melalui Pendaftaran Tanah  Sistematis  Lengkap (PTSL) di Kabupaten Bekasi berdasarkan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku; Camat mengevaluasi  program PSL tersebut sesuai dengan situasi perkembangan persertifikatan tanah melalui Pendaftaran Tanah  Sistematis  Lengkap (PTSL) di wilayah Pemerintahan Desa masing-masing.  Surat ditandatangani oleh Pj Bupati Bekasi, Dr.H.Dani Ramdan, MT.


Pungutan Liar dalam Pandangan Hukum Islam


Pungutan liar atau pungli dapat di artikan sebagai pungutan yang dilakukan oleh dan untuk kepentingan pribadi oknum petugas secara tidak sah atau melaggar aturan. Pungli merupakan salah satu bentuk penyalahgunaan wewenang yang memiliki tujuan untuk memudahkan urusan atau memenuhi kepentingan dari pihak pembayar pungutan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pungli melibatkan dua pihak atau lebih, baik itu pengguna jasa ataupun oknum petugas yang biasa melakukan kontak langsung untuk melakukan tranksaksi rahasia maupun terang-terangan, dimana pada umumnya pungli yang terjadi pada tingkat lapangan dilakukan secara singkat dan biasanya berupa uang. Pungli menjadi jalan pintas masyarakat untuk mencapai tujuannya. Namun, tidak dapat di pungkiri, pungli jelas merugikan negara dan bangsa dalam bentuk penurunan daya saing. Maju mundurnya sebuah bangsa sangat dipengaruhi oleh generasi yang dimiliki bangsa itu. Sebab generasi yang baik akan mencetak bangsa yang kuat dan berwibawa.


Imam Adz Dzahabi berkata bahwa orang yang melakukan pungutan liar mirip dengan perampok jalanan yang lebih jahat daripada pencuri. Orang yang menzalimi orang lain dan berulang kali memungut upeti, maka dia itu lebih zalim dan lebih jahat dari pada orang yang adil dalam mengambil pungutan dan penuh kasih sayang pada rakyatnya. Bahwa  orang yang mengambil pungutan liar, pencatat dan pemungutnya, semuanya bersekutu dalam dosa, sama-sama pemakan harta haram. Dalam kaidah ushul fiqh disebutkan bahwa tiada suatu peristiwapun di dalam Islam, melainkan di situ ada hukum Allah. 

Ditinjau dari sisi syariat, pungutan liar dapat dipadankan dengan kata ar-risywah.


Pungutan liar dapat dikategorikan sebagai arrisywah apabila kedua bela pihak sepakat, juga bisa dikategorikan sebagai perampasan (al-ghasbu) juga bisa dikategorikan pemungutan cukai (al-maksu), yakni apabila pungutan tersebut bersifat memaksa, misalnya apabila tidak menyerahkan sejumlah uang tertentu kepada yang berwenang, maka urusannya akan di persulit, Allah telah menurunkan syari’at terakhir yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.  Syariat ini memiliki ciri khas rasional dibekali wahyu sebagai sumber rujukan guna menjadikan agama ini sebagai jalan yang lurus mencapai kebenaran di sisi Allah.


Agama Islam adalah agama yang menjunjung tinggi kejujuran, baik terhadap diri sendiri maupun kepada orang lain lain. Islam yang bearti keselamatan bagi para umat manusia yang memeluknya yang berarti menjauhkan umatnya dari perbuatan yang menyesatkan dan merugikan orang lain. Ketika seseorang memiliki iman yang mantap selalu merasa bersama dengan Allah. Allah maha melihat, maha mengawasi. Kemudian juga model pencegahan dari aspek ibadah, sebab salah satu fungsi ibadah itu mencegah manusia dari perbuatan keji dan mungkar. 


Ahkam Jayadi, "Membuka Tabir Kesadaran Hukum" (2017:14) menjelaskan bahwa  bahwa nilai-nilai yang terkandung di dalam ajaran agama Islam (di dalam al-Quran dan Hadist) tidak hanya berisi kaidah-kaidah yang mengatur tentang tata cara beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa, akan tetapi berisi juga kaidahkaidah tentang interaksi sosial yang ada di tengah masyarakat bahkan mengatur tentang Negara. 


Dalam agama Islam dengan jelas menerangkan bahwa penganutnya dilarang untuk melakukan perbuatan memakan yang bukan haknya.


Sebagaimana Firman Allah SWT dalam al-Quran QS. al-Baqarah/2:188: 


“Wa laa ta’kuluu amwaalakum  bainakum bil baatili wa tudluu bihaa ilal hukkami  lita’kulu fariqam min amwaalinnaasi bil ismi wa antum ta’lamuun “ (Q.S. 2:188)


Dalam Tafsir Al-Ibriiz menguraikan bahwa “Wa laa ta’kuluu (lan ojo podo mangan siro kabeh) amwaalakum ( ing piro piro bondho iro kabeh ) bainakum (ing ndalem antarane iro kabeh ) bil baatili ( kelawan batal ) wa tudluu ( lan nggowo siro kabeh ) bihaa (kelawan piro piro bondho )  ilal hukkami (marang pirang-pirang hakim )  lita’kulu (supoyo mangan siro kabeh ) fariqam ( ing sak panthan ) min amwaalinnaasi (saking piro-piro bandhane menungso ) bil ismi ( kelawan duso ) wa antum ( khale utawi siro kabeh ) ta’lamuun (ing podo ngerti siro kabeh )”


Dalam kitab tafsir Al-Ibriiz menerjemahkan ayat tersebut, yaitu  “siro  ora diparingaken ngalap bondhone liyan kanthi dalan kang ora bener, opo dene ugo ora diparingaken nggugat,serta nyorok (nyogok) marang poro hakim, kanthi tujuan supoyo siro kabeh iso ngalap bandhane liyan kelawan dedalan kan ora bener (doso) ing khale siro kabeh podho ngerti yen siro kabeh sing ora bener”.


Kementrian Agama Republik Indonesia mengartikan ayat tersebut, sebagai berikut: 


“Dan janganlah kamu makan harta diantara kamu dengan jalan yang bathil,  dan (janganlah) kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim, dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS. 2:188)


Selain ayat di atas, larangan memakan harta dengan jalan yang batil pun tertuang dalam QS. AnNisa/4: 29. 


“Yaa aiyuhallazii na  ’aamanu laa ta’quluu amwaalakum bainakum bilbaatili illa antaquuna tijaarotan antaroodhin mingkum, walataqkulu angfusakum, innalloha kaana bikum rohiima.” (QS. 4:29)


Dalam Tafsir Al-Ibriiz menguraikan bahwa Yaa aiyuhallazii na ( he eling eling wong wong), ’aamanu (  kang podo iman al alladziina ), laa ta’quluu (ojo podo mangan siro kabeh), amwaalakum (ing piro-piro bondho iro kabeh), bainakum (ing ndalem antarane siro kabeh), bilbaatili ( kelawan batil),  illa antaquuna ( kejobo yento ono al awwalakum), tijaarotan (iku bondo dagangan), antaroodhin = saking ridhon rinidon), mingkum, (saking siro kabeh), walataqkulu ( lan ojo podo mateni siro kabeh), angfusakum, (ing piro-piro awak iro kabeh ), innalloha (satuhune Alloh ta’ala), kaana (iku ono ing Alloh), bikum ( kelawan siro kabeh) rohiima (iku akeh welase).


Dalam kitab tafsir Al-Ibriiz menerjemahkan ayat tersebut, yaitu  “Siro kabeh ojo mangan bondho kang hasil saking dalan batalkoyo ribo lan ghosob umpomone. Tetapi bondho kang hasil saking dagang kanthi ridon rinidon iku kepareng. Lan siro kabeh ojo podo ngendat (bunuh diri). Saktemene Alloh Ta’ala iku welas marang siro kabeh”.


Kementrian Agama Republik Indonesia mengartikan ayat tersebut, sebagai berikut:


"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu." (QS. An-Nisa' ayat 29)


Dan di dalam Hadist Nabi, diantara dalil diharamkannya menarik al-muks (pungutan) adalah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan al-Hakim, Rasulullah saw bersabda “Tidak akan masuk surga orang yang melakukan pemungutan” ( At-Tirmidsi, 1/250: Ibnu Majah, 2313 dan Hakim, 4/102-103: dan Ahmad 2/164-190). Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah akan memberikan jalan keluar baginya dan mengaruniainya rezeki dari arah yang tidak di sangka-sangkanya. Sebab Allah SWT adalah pencipta yang terbaik, segala ciptaan-Nya dan tidak seorang pun mampu menandinginya, baik kuantitas maupun kualitasnya. 

Manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya hadir ke pentas dunia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, jasmani dan rohani.


Al-Quran dengan wawasannya yang amat luas banyak berbicara tentang manusia, kodrat dan kedudukannya dengan kedalaman dan kepekaan cita rasa bahasa Arab, sehingga dalam setiap pernyataannya mengundang para pembacanya untuk bertadabbur, tabashur, tadzakkur dan tafakkur.

Mencegah kemungkaran dengan tangan sebagimana perintah dalam Hadist pada dasarnya merupakan tugas pemerintah dan instansi yang berwenang untuk mencegah kemungkaran tersebut.


Pernyataan al-Thariq memang sangat logis, yaitu bahwa kemungkaran-kemungkaran yang terjadi di masyarakat, apabila kemungkaran kolektif seperti problem pungli merupakan salah satu bentuk korupsi di Indonesia, harus ditangani langsung oleh pemerintah dan bekerja sama dengan semua kompenen bangsa. Sebab, tidak mungkin individu-individu tertentu akan berusaha memberantas tradisi korupsi yang terjadi hampir semua lini dan sektor kehidupan. 

Dalam hukum Islam, pungutan liar dapat dipersamakan dengan istilah risywah, bahkan dapat dikategorikan sebagai tindakan ghulul atau al-maksu, khususnya jika pungutan tersebut dijadikan sebagai syarat untuk memperoleh pelayanan. Baik riyswah, ghulul maupun al-maksu ketiganya termasuk perbuatan haram yang sangat dilarang, dan pelakunya akan memperoleh ganjaran dihari akhirat (neraka), Jika tidak meminta maaf dan atau bertobat.


(bersambung)


Sabtu, 18 Juni 2022

Hak Pekerja Harian Lepas dan Valensi Pelanggaran Politisi Deltamas-Pengusaha

 

Oleh: Izhar Ma’sum Rosadi* 

Tulisan  ini Pernah tayang pada Selasa, 08 Maret 2022, di https://monologis.id/kopilogis/hak-pekerja-harian-lepas-dan-valensi-pelanggaran-politisi-deltamaspengusaha


 


ADA yang menarik dan sudah menjadi konsumsi publik terkait pemberitaan di media online  yang berjudul “PT Langgeng Jaya Indoteknik Rumahkan Pekerja Tanpa Gaji Tanpa Pesangon” Berita itu tayang pada Jumat 4 Maret 2022 lalu.

Selanjutnya untuk penulisan nama PT tersebut saya lebih nyaman menulisnya dengan singkatan saja, PT LJI. Salah satu bagian tulisan di berita tersebut tersebut menyajikan Narasumber Pekerja PT LJI (yang mana identitasnya dilndungi oleh pihak media tersebut) menyampaikan  bahwa dirinya tidak mengetahui apa alasan di suruh istirahat saja di rumah dan kalau diberhentikan  juga tanpa pesangon. Tidak  ada yang salah pada narasumber tersebut yang mengalami kebuntuan dan menyampaikan suara ke pihak media, sebagai corong suara rakyat yang juga seperti digambarkan Antonio Gramsci bisa menjelma menjadi ’tangan-tangan’ kelompok berkuasa yang punya watak hegemonik. Sementara narasumber dimaksud adalah seorang rakyat (terhinakan dan kurang dihargai) yang mana  suara rakyat adalah Suara Tuhan,

Menelisik lebih tajam atas fenomena di atas (yang cukup menghenyakkan saya sebagai pemerhati) pun mendapatkan informasi bahwa pemilik PT LJI adalah  Jampang Hendra Atmaja, pengusaha yang sukses dan juga berhasil menjadi salah satu anggota DPRD Kabupaten Bekasi periode 2019-2024, yang sejatinya sebagai wakil rakyat harus tetap berkomitmen mengabdi kepada masyarakat, bisnis etis dan tanpa menggunakan “Tangan Besi” dalam penyelesaian masalah tersebut. Memang, ada pihak yang menghubungi narasumber dan menyampaikan hal di luar nalar manusia, bahwa ‘…….Dia kalau sudah ngucap pasti terjadi” Padahal, hemat saya, Uang bukanlah Tuhannya manusia. Manusia adalah makhluk tuhan, Tuhan Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Tuhan berkata “Jadi maka Jadilah”.

Hak Narasumber sebagai Pekerja Harian Lepas

Narasumber merupakan rakyat kecil, pekerja harian lepas yang layak dibela dan diperjuangkan. Tenaga Kerja Harian terlepas atau kontrak kerja freelance ialah orang yang melakukan tugas tertentu yang dalam soal waktu, volume, dan gajinya didasari pada kehadiran yang dilakukan. Sama seperti dengan karyawan lain, hak-hak pekerja harian lepas juga ditata dalam undang-undang di Indonesia, diantaranya Keputusan Menteri No. 100 Tahun 2004 dan UU ketenagakerjaan yang mengatur berkenaan ketetapan karyawan harian terlepas di perusahaan. Selain itu, sekarang juga sudah berlaku Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja yang juga mengatur tentang pekerja harian lepas. Dalam UU Cipta Kerja diatur ketentuan tentang pesangon bagi pekerja. Sehingga selain hak-hak pekerja harian lepas yang sudah ada sebelumnya, pesangon menjadi salah satu hak yang wajib dipenuhi perusahaan dengan berlakunya UU Cipta Kerja.

Berdasar keputusan dan UU itu, karyawan harian terlepas masuk ke kelompok Kesepakatan Kerja Waktu Tertentu (PKWT). Hak-hak pekerja harian lepas yang wajib di penuhi oleh perusahaan adalah;

Pertama, Memperoleh Gaji,  bahwa sesudah terima pekerjaan dan menuntaskan pekerjaannya secara tepat dan sesuai waktu yang ditentukan, maka hak pekerja harian lepas wajib memperoleh gaji. Penggajian dapat berbentuk unit waktu atau lama waktunya karyawan bekerja dan hasil yang ditangani karyawan.

Kedua, Hak Pekerja Harian Lepas Dalam Hal Jaminan Sosial, bahwa sudah merupakan kewajiban perusahaan untuk mendaftarkan karyawannya ke BPJS sesuai dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2013 Tentang Jaminan Kesehatan sebagai berikut: Pasal 11 ayat (1) berbunyi: Pemberi Kerja sesuai ketentuan Pasal 6 ayat (3) dan ayat (4) wajib mendaftarkan dirinya dan Pekerjanya sebagai Peserta Jaminan Kesehatan kepada BPJS Kesehatan dengan membayar iuran. Pasal 11 ayat (2) berbunyi: Dalam hal Pemberi Kerja secara nyata-nyata tidak mendaftarkan Pekerjanya kepada BPJS Kesehatan, Pekerja yang bersangkutan berhak mendaftarkan dirinya sebagai Peserta Jaminan Kesehatan. Pasal 11 ayat (3) berbunyi: Pendaftaran oleh Pekerja sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan dengan melampirkan dokumen yang membuktikan status ketenagakerjaannya. Pasal 11 ayat (4) berbunyi: Pekerja yang mendaftarkan dirinya sebagai Peserta Jaminan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), iurannya dibayar sesuai ketentuan Peraturan Presiden ini. Pasal 11 ayat (5) berbunyi: Dalam hal Pekerja belum terdaftar pada BPJS Kesehatan, Pemberi Kerja wajib bertanggung jawab pada saat Pekerjanya membutuhkan pelayanan kesehatan sesuai dengan Manfaat yang diberikan oleh BPJS Kesehatan.

Dan yang terakhir adalah Kepastian Pekerjaan dan Tanggung Jawab, sehingga pekerja harian lepas mengetahui apa pekerjaannya dan bagaimana melakukan pekerjaan yang semestinya.

Hal yang Patut Diperhatikan

Untuk itulah, hal yang mesti diperhatikan sebagai Politisi Deltamas-Pengusaha, jangan sampai muncul valensi pelanggaran di dunia usaha yang rawan konflik kepentingan. Valensi menurut Burgoon dan Hale (1998) melibatkan pemahaman atas pelanggaran melalui interpretasi dan evaluasi.

Jika interpretasi dan evaluasi publik internal maupun eksternal sudah memosisikan ada yang dilanggar, bukan tidak mungkin akan mempengaruhi elektabilitasnya dan juga sukar rasanya membangun irisan politik-ekonomi-moral/etik yang dinamis.

 Sebagai pejabat publik seyogianya perlu merenungkan ulang ucapan presiden pertama Filipina di bawah pendudukan Amerika, Manuel L Quezon (1878-1944), yang mengingatkan agar ”loyalitas terhadap partai berhenti ketika loyalitas terhadap negara dimulai”. Ucapan ini dikutip ulang oleh Presiden Amerika Serikat John F Kennedy (1917-1963) untuk menggarisbawahi perlunya komitmen kenegarawanan seorang pejabat publik. Loyalitas menjaga marwah jabatan publik harus di atas urusan komersial milik pribadi.*